IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Rating S&P Tetap Stabil, Mengapa Rupiah Justru Tembus Rp 18.000?

JAKARTA, Gonesia.com – Kinerja mata uang rupiah yang terus merosot hingga menembus level psikologis Rp 18.091 per dolar AS pada perdagangan Selasa (14/7/2026) menunjukkan bahwa legitimasi peringkat utang dari S&P Global Ratings tidak lagi menjadi jaminan utama bagi stabilitas pasar keuangan domestik.

Meskipun lembaga pemeringkat internasional tersebut telah mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, realitas pasar justru menunjukkan tren sebaliknya dengan depresiasi rupiah mencapai 7,79 persen sejak awal tahun.

Pelemahan ini menempatkan mata uang Garuda sebagai instrumen dengan kinerja terburuk di kawasan Asia sepanjang periode berjalan.

Anomali ini terjadi di tengah data ekonomi yang sebenarnya cukup positif, di mana cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi US$ 145,6 miliar pada Juni 2026.

Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menilai bahwa penurunan daya saing nasional menjadi pemicu utama eksodus modal asing dari pasar domestik.

BEI Tambah 37 Saham dalam Daftar High Shareholding Concentration, Ini Daftarnya

Data IMD World Competitiveness Ranking (WCR) menunjukkan posisi Indonesia merosot tajam ke peringkat 48 dari 70 negara pada 2026, setelah sebelumnya sempat bertengger di posisi 27 pada 2024.

Ia menyebutkan bahwa saat ini investor institusi lebih memilih mengalihkan portofolio investasi mereka ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

“Kredibilitas kebijakan Indonesia di antara negara ASEAN lain sangat rapuh,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sentimen negatif investor juga diperparah oleh maraknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik serta kurangnya efektivitas komunikasi kebijakan pemerintah.

Secara fundamental, tekanan terhadap rupiah juga bersumber dari defisit transaksi berjalan yang masih terbebani oleh tingginya volume impor migas.

Rupiah Melemah, Simak Analisis Prospek dan Saham Sektor Konstruksi 2026

Kebutuhan valuta asing di dalam negeri saat ini tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan aliran masuk penerimaan dari sektor ekspor.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyoroti bahwa permintaan dolar AS terus meningkat seiring dengan kewajiban pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

Selain itu, aksi repatriasi keuntungan oleh perusahaan-perusahaan multinasional turut memberikan tekanan tambahan terhadap cadangan devisa nasional.

Pasar saat ini juga sedang mencermati risiko pelebaran defisit APBN akibat masifnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menutup kebutuhan belanja pemerintah.

“Tanpa perbaikan neraca valas secara struktural, intervensi Bank Indonesia melalui kenaikan BI-Rate dan cadangan devisa hanya mampu menahan pelemahan sementara,” kata dia.

IHSG Berpotensi Koreksi, Cek Rekomendasi Saham RAJA, SMDR, dan WIFI

Rizal memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 18.300 per dolar AS hingga akhir tahun.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menyatakan bahwa level Rp 18.000 berpotensi menjadi titik keseimbangan baru bagi mata uang Indonesia.

Ia memperkirakan kurs dolar AS terhadap rupiah akan menetap di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.300 hingga penutupan akhir tahun 2026.

Sentimen global pun tidak membantu, terutama dengan masih tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan ketidakpastian kebijakan Federal Reserve.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas turut menambah ketidakpastian bagi investor global dalam menempatkan modalnya di pasar berkembang.

Komentar