JAKARTA, Gonesia.com — Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan tegas yang menantang pihak-pihak pesimistis untuk meninggalkan Indonesia jika tidak lagi memiliki keyakinan terhadap masa depan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Negara dalam pidato puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 yang berlangsung di Jakarta, Minggu (12/7).
Ia menekankan bahwa Indonesia saat ini sedang berada dalam fase krusial pembangunan ekonomi yang membutuhkan energi positif dan optimisme seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, sikap ragu-ragu hanya akan menghambat laju kemajuan yang sedang diperjuangkan oleh pemerintah di berbagai sektor.
“Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan. Tidak ada yang melarang,” kata Prabowo.
Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap fokus menjalankan berbagai agenda strategis guna memperkuat fondasi perekonomian nasional dari level akar rumput.
Salah satu pilar utama yang terus didorong oleh pemerintah dalam strategi pembangunan saat ini adalah penguatan sektor koperasi di tingkat desa hingga kabupaten.
Upaya ini dipandang sebagai instrumen vital untuk memeratakan kesejahteraan dan membangkitkan potensi ekonomi lokal yang selama ini belum tergarap optimal.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meninggalkan budaya saling menyalahkan yang kontraproduktif bagi stabilitas nasional.
Sebaliknya, ia mendorong agar semangat gotong royong dijadikan sebagai landasan utama dalam berinteraksi sosial dan menjalankan roda perekonomian.
“Mari kita bersatu. Mari kita gotong royong. Mari kita kerja sama. Yang kuat bantu yang lemah. Yang lemah kerja sama yang baik. Insya Allah kita akan bangkit,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberagaman suku, agama, dan latar belakang politik bukanlah sebuah tembok penghalang bagi persatuan Indonesia.
Ia meyakini bahwa setiap warga negara, tanpa memandang afiliasi partai politiknya, memiliki semangat patriotisme yang sama untuk memajukan negara.
Baginya, perbedaan-perbedaan tersebut justru harus dipandang sebagai kekayaan yang memperkuat struktur sosial bangsa dalam menghadapi tantangan global.
Ia mengingatkan bahwa seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab moral yang setara dalam menjaga kedaulatan dan kesejahteraan tanah air.
“Kita ini satu keluarga. Apapun latar belakang kita, apapun suku kita, apapun partai kita. Semua partai banyak patriot,” pungkasnya.
Pernyataan ini mencerminkan sikap tegas pemerintah dalam mengonsolidasi kekuatan nasional di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi bagi pihak-pihak yang ingin berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Fokus pada sektor koperasi diharapkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi yang berdampak langsung pada peningkatan daya beli masyarakat.
Dengan mengedepankan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, ia optimistis Indonesia mampu melampaui berbagai hambatan struktural yang ada.
Langkah ini sekaligus menjadi ajakan untuk membangun mentalitas bangsa yang tangguh dan tidak mudah menyerah pada keadaan.
Keseluruhan pidato tersebut menegaskan bahwa agenda pembangunan nasional tidak akan melambat meskipun menghadapi kritik dari pihak yang kurang percaya pada arah kebijakan negara.


