JAKARTA, Gonesia.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan lonjakan antusiasme investor pada perdagangan perdana Rabu (8/7/2026) seiring dengan resmi melantainya dua emiten baru, yakni PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).
Kedua perusahaan tersebut melengkapi daftar emiten yang mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di pasar modal tanah air pada tahun 2026.
BACH tercatat sebagai emiten keempat, sementara EMMI menyusul sebagai emiten kelima sepanjang tahun ini.
Respons pasar terhadap kedua emiten tersebut tergolong sangat masif dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscribe) yang tinggi.
Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk Florian Chris Widjaja mengungkapkan, penawaran umum perdana saham EMMI mendapat respons positif dari investor dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscribe) mencapai 14 kali, ujarnya dikutip dari Gonesia.com pada Rabu (8/7/2026).
Dalam proses IPO ini, EMMI melepas sebanyak 522,86 juta saham baru ke publik.
Jumlah tersebut setara dengan 30 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh pasca penawaran umum perdana.
Perseroan mematok harga penawaran di angka Rp470 per lembar saham.
Dari aksi korporasi tersebut, EMMI berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp245,74 miliar.
Ia menjelaskan, dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan serta mendukung ekspansi bisnis perseroan.
Sebagian dana, yakni Rp50 miliar, dialokasikan untuk pembayaran pokok pinjaman.
Selain itu, sekitar 6,4 persen dari dana IPO akan dialokasikan untuk belanja modal pembangunan pabrik baru di Cikupa.
“Luas pabrik di Cikupa sekitar 2.000 hingga 3.000 meter persegi. Rencananya akan dibangun dua sampai tiga lantai,” kata dia.
Sisa dana sebesar 72,3 persen akan dimanfaatkan sebagai modal kerja, termasuk pembelian barang untuk proyek softloan serta pengadaan bahan baku.
Di sisi lain, PT Bach Multi Global Tbk mencatat capaian yang lebih fantastis dalam proses penawaran sahamnya.
Direktur PT Bach Multi Global Tbk Hasby Jap mengatakan, IPO BACH mencatat kelebihan permintaan hingga 165 kali.
Perusahaan melepas maksimal 615 juta saham baru atau setara dengan 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Dengan harga penawaran Rp500 per saham, BACH sukses meraup total dana sebesar Rp307,5 miliar.
Dana tersebut sebagian besar, yakni Rp91,02 miliar, digunakan untuk melunasi pinjaman jangka pendek kepada PT Bank Permata Tbk.
Sisanya, sebesar Rp213,48 miliar, akan digunakan sebagai modal kerja operasional perusahaan.
Dana modal kerja tersebut terutama difokuskan untuk pembelian generator set (genset) guna menunjang unit bisnis penjualan maupun penyewaan.
Direktur Utama BACH Budi Kurniawan menyatakan keyakinannya bahwa prospek bisnis perseroan akan terus tumbuh seiring kebutuhan infrastruktur telekomunikasi dan sistem kelistrikan yang meningkat.
Perseroan memproyeksikan pendapatan akan melonjak dari Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi lebih dari Rp3 triliun pada 2030.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan rata-rata sebesar 12 persen per tahun.
“Kami sangat optimistis melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kebutuhan masyarakat terhadap bisnis power system serta infrastruktur telekomunikasi yang terus meningkat,” ujarnya.
Laba bersih perseroan diproyeksikan mencapai Rp401 miliar pada periode yang sama atau tumbuh sekitar 158 persen.
Sentimen positif investor terlihat jelas pada perdagangan perdana di bursa.
Saham BACH sempat melonjak 24,43 persen ke posisi Rp550 per saham sesaat setelah pembukaan.
Saham EMMI juga mengalami apresiasi sebesar 11,70 persen ke level Rp525 per saham pada menit-menit awal perdagangan.

