Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif dengan melanjutkan tren penguatan selama lima hari beruntun hingga mendekati ambang psikologis 6.000.
Pergerakan indeks sepanjang sesi perdagangan Selasa (7/7/2026) menunjukkan dominasi pembeli yang signifikan di pasar modal domestik.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi bahwa IHSG ditutup menguat sebesar 1,19% ke posisi 5.986,49.
Optimisme pasar terlihat dari fluktuasi indeks yang secara konsisten bertahan di zona hijau sepanjang hari.
Rentang pergerakan indeks tercatat berada pada titik terendah 5.890 dan berhasil menyentuh level tertinggi harian di angka 5.987.
Sentimen positif ini tercermin dari dominasi emiten yang mencatatkan kenaikan harga saham di papan perdagangan.
Tercatat sebanyak 430 saham ditutup menguat, sementara 212 saham lainnya mengalami koreksi harga.
Selain itu, sebanyak 141 saham terpantau bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang berarti.
Antusiasme pelaku pasar juga tecermin dari tingginya volume transaksi yang mencapai 22,36 miliar saham.
Nilai transaksi harian yang dibukukan oleh para investor di pasar modal menyentuh angka Rp 10,39 triliun.
Kendati IHSG menunjukkan ketahanan di tengah tren reli, dinamika arus modal asing menunjukkan anomali yang perlu dicermati.
Investor asing masih melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 176,83 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Selasa.
Fenomena ini mengindikasikan adanya perbedaan strategi antara investor domestik yang agresif membeli dengan investor asing yang cenderung merealisasikan keuntungan.
Tekanan jual dari pihak asing tampak terkonsentrasi pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menempati urutan pertama saham dengan net sell terbesar senilai Rp 178,53 miliar.
Posisi kedua ditempati oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai jual bersih mencapai Rp 106,87 miliar.
Selanjutnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mencatatkan net sell asing sebesar Rp 71,58 miliar.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turut dilepas dengan nilai jual bersih mencapai Rp 53,89 miliar.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami tekanan jual asing sebesar Rp 40,38 miliar.
PT Astra International Tbk (ASII) juga mencatatkan net sell senilai Rp 31,33 miliar.
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) mencatatkan nilai penjualan bersih oleh asing sebesar Rp 27,98 miliar.
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menyusul dengan nilai net sell asing sebesar Rp 19,94 miliar.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatat angka jual bersih Rp 19,29 miliar.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menutup daftar dengan nilai net sell asing sebesar Rp 17,02 miliar.
Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun IHSG terus menanjak, komposisi pemegang saham asing pada emiten-emiten blue chip masih mengalami pergeseran yang cukup dinamis.
Analisis pasar menunjukkan bahwa pergerakan IHSG saat ini sangat bergantung pada keberanian investor lokal dalam menyerap tekanan jual asing.
Para pelaku pasar kini menanti apakah level psikologis 6.000 dapat ditembus pada sesi perdagangan berikutnya.
Stabilitas ekonomi makro menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan reli indeks di masa mendatang.
Kinerja emiten pada laporan keuangan kuartal mendatang diprediksi akan menjadi katalis utama pergerakan harga saham selanjutnya.
Ketahanan indeks di level saat ini memberikan sinyal kepercayaan pasar yang cukup kuat terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Investor disarankan untuk tetap memperhatikan arus modal asing di samping memantau pergerakan harga saham secara teknikal.
Volatilitas pasar yang masih tinggi menuntut kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi jangka pendek.
Secara teknikal, posisi IHSG saat ini berada dalam fase konsolidasi menuju level resistensi psikologis yang lebih tinggi.

