Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pembalikan arah yang impresif pada perdagangan sesi pertama Selasa (7/7/2026) dengan bertahan di zona hijau meski sempat tertekan ke area negatif di awal pembukaan.
Berdasarkan data RTI pada pukul 12.00 WIB, indeks acuan domestik ini berhasil menguat sebesar 0,46% atau setara dengan 27,462 poin menuju level 5.943,532.
“Pergerakan IHSG pada sesi pertama berlangsung di tengah perhatian investor terhadap sejumlah sentimen global dan domestik,” ujar sumber pasar modal dikutip dari Gonesia pada Selasa (7/7/2026).
Ia menambahkan bahwa dinamika pasar di sesi awal mencerminkan respon pelaku pasar terhadap data ekonomi makro yang baru dirilis.
Sebanyak 366 saham terpantau mengalami penguatan signifikan di tengah fluktuasi pasar yang cukup dinamis.
Terdapat 235 saham yang harus terkoreksi, sementara 179 saham lainnya tercatat tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume perdagangan sepanjang sesi pertama mencapai angka 12,7 miliar saham dengan total nilai transaksi menyentuh Rp 5 triliun.
Sektor properti menjadi lokomotif utama penguatan indeks dengan kenaikan mencapai 2,64%.
Sektor barang konsumen non-primer atau IDX-Cyclic menyusul di posisi kedua dengan apresiasi sebesar 1,45%.
Sektor kesehatan atau IDX-Health turut memberikan kontribusi positif melalui penguatan sebesar 1,02%.
Di jajaran saham unggulan indeks LQ45, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) memimpin dengan lonjakan harga 5,69% ke level Rp 1.485 per lembar.
Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menyusul dengan kenaikan 4,50% menjadi Rp 2.090 per lembar.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melengkapi daftar top gainers LQ45 dengan penguatan 4,32% ke posisi Rp 1.570 per lembar.
Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang turun 3,26% ke level Rp 6.675.
Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga ikut melemah sebesar 2,89% menjadi Rp 6.725 per lembar.
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menutup daftar saham dengan pelemahan terdalam di kelompok LQ45, yakni sebesar 1,96% ke level Rp 500 per lembar.
Sentimen eksternal yang paling dinanti oleh pelaku pasar saat ini adalah rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat.
Pasar berekspektasi risalah tersebut akan memberikan sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed di masa depan.
Di sisi domestik, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa per Juni 2026 mencapai US$ 145,6 miliar.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan tipis dari posisi akhir Mei 2026 yang berada di level US$ 144,9 miliar.
Kenaikan ini menjadi indikator penting bagi investor mengenai ketahanan sektor eksternal Indonesia yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Namun, posisi cadangan devisa saat ini masih berada di bawah catatan Januari 2026 yang sebesar US$ 154,58 miliar.
Secara tahunan, posisi tersebut juga mengalami penurunan dibandingkan periode Juni 2025 yang mencatatkan angka US$ 152,57 miliar.
Para pelaku pasar diprediksi akan terus menerapkan strategi kehati-hatian pada sisa perdagangan hari ini.
Ia menyatakan bahwa fokus investor akan tertuju pada perkembangan sentimen global yang berpotensi memengaruhi arah nilai tukar rupiah dan arus modal asing ke pasar domestik.

