Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai meredanya ketegangan geopolitik dunia berpotensi menahan lonjakan harga energi global. Jika kondisi itu berlanjut, pemerintah akan memperoleh ruang fiskal yang lebih longgar untuk mendanai agenda-agenda prioritas.
Purbaya mengatakan pemerintah sejak awal sudah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan gejolak harga energi. Salah satu caranya adalah dengan mengalokasikan anggaran subsidi lebih besar.
Menurut dia, ketika harga energi kembali stabil dan tekanan subsidi menyusut, dana yang sebelumnya disiapkan untuk meredam risiko tersebut bisa dipakai untuk kebutuhan lain. Pemerintah, kata Purbaya, ingin memastikan anggaran tetap fleksibel saat momentum membaik.
“Kan kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi. Sehingga akan jauh berkurang, ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh presiden,” ujar Purbaya di Jakarta, dikutip Rabu, 17 Juni 2026.
Meski peluang itu terbuka, Kementerian Keuangan belum akan langsung mengubah kebijakan. Pemerintah masih memantau perkembangan kondisi global sebelum menentukan langkah berikutnya.
“Nanti kita lihat seperti apa dan baru kita adjust,” kata Purbaya.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan strategi pembiayaan negara yang lebih luas. Purbaya menyebut akan bertolak ke China untuk bertemu investor sekaligus membahas rencana penerbitan panda bond.
Namun, ia belum membeberkan berapa besar dana yang akan dihimpun lewat instrumen tersebut.
Pemerintah berharap stabilitas global yang membaik, ditambah pengelolaan fiskal yang hati-hati, dapat memperkuat daya dukung APBN bagi pembangunan nasional dalam beberapa tahun ke depan.

