JAKARTA – Investasi anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), yakni Telkomsel, di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) saat ini mengalami kerugian belum terealisasi (*floating loss*) yang signifikan. Kondisi ini dipicu oleh anjloknya harga saham GOTO ke level harga terendah atau *auto reject* bawah (ARB) di posisi Rp50 per saham.
Hingga perdagangan Rabu (3/6), saham GOTO masih tertahan di level Rp50 dengan antrean jual mencapai 184,49 juta lot. Dengan kepemilikan 23,72 miliar lembar saham yang dibeli pada harga perolehan Rp270 per lembar, Telkomsel mencatatkan *floating loss* mencapai Rp5,22 triliun.
Meski demikian, angka tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan Telkom. Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2025, investasi ini dinilai menggunakan metode nilai wajar (*fair value*) Level 1 dengan acuan Rp64 per saham, sedangkan pada 31 Desember 2024 di level Rp70 per saham. Dampaknya, Telkomsel membukukan kerugian yang belum direalisasi (*unrealized loss*) masing-masing sebesar Rp142 miliar pada 2025 dan Rp380 miliar pada 2024.
Awal Mula Investasi
Investasi Telkomsel di GOTO bermula pada November 2020 melalui pembelian obligasi konversi senilai US$150 juta, disusul investasi tambahan sebesar US$300 juta pascamerger Gojek-Tokopedia pada 2021. Total investasi Telkomsel mencapai US$450 juta atau sekitar Rp6,4 triliun dengan harga eksekusi Rp270 per saham.
Pada masa awal, valuasi GOTO sempat melonjak hingga mencapai US$30-40 miliar, yang sempat memberikan potensi keuntungan (*unrealized gain*) bagi Telkomsel senilai Rp2,4 triliun pada 2021. Namun, seiring dengan tekanan pada sektor teknologi global dan penurunan harga saham startup, harga saham perdana GOTO saat IPO pada April 2022 dipatok di angka Rp338 per saham.
Tekanan dari MSCI dan FTSE
Di sisi lain, saham GOTO menghadapi tekanan bertubi-tubi dari lembaga pemeringkat internasional. MSCI memutuskan untuk membekukan proses *rebalancing* saham GOTO dalam peninjauan indeks Mei 2026 karena risiko likuiditas akibat harga saham yang tertahan di level gocap.
Tak hanya itu, FTSE Russell juga mengumumkan akan mengeluarkan saham GOTO dari indeks FTSE Global Equity Index Series Mid Cap Index mulai 22 Juni 2026. Langkah ini diambil karena GOTO tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), yang tidak memenuhi kriteria kelayakan FTSE.
Menanggapi sentimen negatif tersebut, manajemen GOTO menegaskan bahwa fundamental bisnis perusahaan terus membaik. Pada kuartal pertama 2026, perseroan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp171 miliar dengan pertumbuhan pendapatan bersih 26% secara tahunan menjadi Rp5,3 triliun.
“Fundamental bisnis GoTo kuat dan Perseroan tetap fokus pada pertumbuhan yang disiplin dan menguntungkan,” ujar Head of Investor Relations GOTO, Joel Ellis.

