Ekonomi

Premi Asuransi Jiwa Kuartal I Melambat, Simak Prospek Pertumbuhannya Tahun Ini

JAKARTA – Industri asuransi jiwa di Indonesia mencatatkan total pendapatan premi sebesar Rp47,2 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut mencerminkan sedikit penurunan sebesar 0,5% secara tahunan (*year on year*/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp47,50 triliun.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan bahwa produk asuransi jiwa tradisional masih menjadi penopang utama pendapatan industri dengan kontribusi senilai Rp30,1 triliun. Meski demikian, angka ini terkoreksi 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam hal distribusi, kanal *bancassurance* tetap memimpin dengan perolehan premi Rp18,54 triliun, diikuti oleh kanal distribusi alternatif sebesar Rp14,44 triliun. Sementara itu, kanal keagenan menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 1,2% menjadi Rp14,29 triliun.

Menariknya, premi bisnis baru berhasil tumbuh 5,0% menjadi Rp27,90 triliun. Selain itu, jumlah tertanggung melonjak signifikan sebesar 20,9%, mencapai total 118,28 juta orang.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, menyebutkan bahwa total pendapatan keseluruhan industri pada kuartal I 2026 mencapai Rp47,63 triliun. Di tengah dinamika tersebut, perusahaan asuransi tetap menunaikan komitmen kepada nasabah dengan menyalurkan klaim dan manfaat sebesar Rp38,73 triliun, meningkat 1,5% (yoy).

RUPST Surya Pertiwi (SPTO) setujui bagi dividen Rp 189 miliar, ini jadwal & nilainya

Dari sisi ketahanan keuangan, industri menunjukkan performa yang solid. Total aset industri asuransi jiwa tumbuh 5,8% menjadi Rp652,89 triliun, sementara total investasi naik 5,7% menjadi Rp571,70 triliun.

Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga AAJI, Handojo G. Kusuma, menegaskan bahwa penempatan portofolio investasi dilakukan secara pruden dan terdiversifikasi. Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen utama dengan nilai Rp248,03 triliun atau mencakup 43,4% dari total portofolio, yang mencatatkan kenaikan 15,8% secara tahunan.

Selain SBN, dana investasi juga dialokasikan ke instrumen saham sebesar Rp112,64 triliun dan reksa dana senilai Rp72,45 triliun. Langkah ini dinilai sebagai bentuk dukungan nyata industri terhadap pembiayaan pembangunan nasional.

Di sisi lain, Ketua Bidang Literasi dan Perlindungan Konsumen AAJI, Wianto Chen, menyoroti perubahan tren klaim masyarakat. Klaim akhir kontrak melonjak tajam hingga 112% menjadi Rp10,45 triliun. Sementara itu, klaim kesehatan naik 15,3% menjadi Rp6,7 triliun, seiring dengan tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan medis. Sebaliknya, klaim *surrender* justru turun 30,4% menjadi Rp13,37 triliun.

Menatap prospek hingga akhir tahun, AAJI menilai sektor asuransi kesehatan akan terus menjadi motor pertumbuhan utama. Potensi pasar masih terbuka lebar mengingat penetrasi asuransi kesehatan di Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih tergolong rendah dibandingkan negara tetangga.

Tanggapan Celios Terkait Fenomena Perusahaan Teknologi Pindah ke Singapura

Meski premi asuransi kesehatan individu sempat terkoreksi menjadi Rp35,75 triliun, segmen asuransi kesehatan kumpulan justru menunjukkan tren peningkatan. AAJI menekankan pentingnya penguatan koordinasi antara regulator dan pelaku industri agar produk asuransi kesehatan dapat terus diakses masyarakat dengan tetap memberikan manfaat optimal bagi perusahaan di tengah tantangan daya beli.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

03

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

04

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

05

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

06

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

07

Purbaya Hitung Potensi Pendapatan Ekspor melalui DSI

08

Prabowo-Megawati Tunjukkan Keakraban, Elite Politik Diminta Mencontoh

Berita Terbaru










× www.domainesia.com
× www.domainesia.com