Padang – Pakar ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy menilai Indonesia tengah bergerak dari kondisi “lampu kuning” menuju “lampu merah” dalam situasi ekonomi saat ini. Ia bahkan menyebut gejala pelemahan rupiah terhadap dolar sudah ia perkirakan sejak tahun lalu.
“Saya sudah menduga sejak 2024 bahwa rupiah bisa menyentuh batas psikologis Rp17.500 sampai Rp18.000,” ujar Ichsanuddin dalam perbincangan dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, dikutip Kamis, 28 Mei 2026.
Pernyataan itu langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet kemudian mengaitkannya dengan bayangan krisis moneter 1998 yang pernah mengguncang Indonesia.
Ichsanuddin menilai, kekhawatiran tersebut tidak bisa disamakan begitu saja dengan situasi saat ini. Ia menjelaskan, pada 1998 Indonesia menghadapi krisis yang bukan hanya soal nilai tukar, tetapi juga merembet menjadi ketidakpercayaan publik, krisis ekonomi, hingga krisis politik.
Ia juga mengingatkan bahwa kala itu lemahnya pengawasan perbankan memperburuk keadaan. Sejumlah oknum bank, menurut dia, turut memanfaatkan jatuhnya rupiah.
“Sekarang memang sudah muncul ketidakpercayaan publik, tetapi ketidakpercayaan politik belum terjadi,” kata Ichsanuddin.

