Jakarta – Tim Ekspedisi Patriot 2026 dijadwalkan melangkah ke 53 kawasan transmigrasi di berbagai daerah pada akhir Juli 2026, setelah melewati proses seleksi yang ketat. Program ini diposisikan pemerintah sebagai bagian dari strategi memperkuat sumber daya manusia unggul di wilayah transmigrasi sekaligus mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyebut antusiasme pendaftar mencerminkan meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kami ingin the best of the best. Kami ingin yang terbaik dari yang terbaik, sehingga yang datang ke kawasan transmigrasi itu betul-betul adalah SDM unggul yang terseleksi oleh universitas terbaik,” kata Iftitah, dikutip dari Kantor Berita RMOLJateng, Rabu, 27 Mei 2026.
Dari seluruh pendaftar Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, Universitas Indonesia menjadi kampus dengan jumlah peminat terbanyak, yakni 1.249 orang. Di bawahnya menyusul Universitas Gadjah Mada dengan 1.187 pendaftar, Universitas Hasanuddin 1.181 pendaftar, serta Universitas Airlangga 1.157 pendaftar.
Institut Pertanian Bogor juga mencatat angka tinggi dengan 1.075 pendaftar. Setelah itu, Universitas Brawijaya mengirimkan 1.014 pendaftar, Universitas Diponegoro 972 pendaftar, Universitas Padjadjaran 952 pendaftar, Institut Teknologi Bandung 872 pendaftar, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember 700 pendaftar.
Para kandidat berasal dari beragam disiplin yang dinilai relevan untuk pengembangan kawasan transmigrasi, mulai dari pertanian, kehutanan, perikanan, energi terbarukan, kebencanaan, teknik lingkungan, tata ruang, hingga ilmu sosial dan pengembangan masyarakat.
Iftitah menilai keberagaman bidang keilmuan itu penting agar pembangunan transmigrasi bisa berjalan secara utuh dan berkelanjutan.
“Indonesia tidak kekurangan potensi, Indonesia kaya. Yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia unggul yang hadir di kawasan-kawasan transmigrasi,” ujarnya.
Tahap seleksi peserta akan dimulai pada awal Juni 2026. Setelah itu, peserta terpilih akan mengikuti pembekalan di kampus masing-masing mitra.
Materi pembekalan akan menitikberatkan pada kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, mitigasi bencana, serta kesiapan kesehatan peserta. Harapannya, para peserta memiliki daya tahan yang kuat saat menghadapi tantangan di wilayah transmigrasi.
“Sehingga mereka bisa betul-betul memiliki satu survival mode menghadapi luar biasa kekayaan Indonesia ini beserta dengan tantangannya,” pungkas Iftitah.

