Jakarta – Pengawasan ibadah haji 2026 akan memberi perhatian khusus pada kondisi kesehatan jemaah lanjut usia. Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI Netty Prasetiyani Heryawan menilai kelompok ini menjadi yang paling rentan dan membutuhkan perlakuan lebih serius, terutama di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi yang diperkirakan berada pada kisaran 40 hingga 45 derajat Celsius.
Netty menyampaikan penekanan itu saat berada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Minggu (17/5/2026). Ia menyebut mayoritas jemaah haji Indonesia berasal dari kalangan lansia, dan banyak di antaranya memiliki penyakit penyerta maupun penyakit katastropik.
Dalam situasi seperti itu, menurut dia, pemerintah melalui Kementerian Haji harus memastikan layanan kesehatan berjalan tanpa hambatan sejak keberangkatan sampai jemaah kembali ke Tanah Air. Pengawasan tidak cukup hanya bersifat administratif, tetapi juga harus menyentuh kebutuhan dasar jemaah di lapangan.
“Petugas kesehatan harus memastikan jemaah lansia tetap terpantau, terutama yang memiliki penyakit penyerta. Jangan sampai kondisi fisik mereka drop menjelang puncak ibadah haji,” kata Netty.
Ia menegaskan, haji adalah ibadah yang menuntut kekuatan fisik tinggi, terlebih saat memasuki fase puncak di Arafah dan Mina. Karena itu, pemantauan kesehatan harus dilakukan secara aktif agar para jemaah tetap siap menjalani seluruh rangkaian ibadah.
Netty juga menyoroti fakta bahwa tidak sedikit jemaah lansia berangkat tanpa pendamping keluarga. Kondisi tersebut, katanya, perlu diantisipasi secara ketat oleh petugas kloter dan tenaga kesehatan agar pengawasan terhadap mereka lebih intensif.
“Kita berharap jemaah mampu menjaga ritme aktivitas sejak awal keberangkatan agar pada puncak haji tetap memiliki kondisi fisik yang baik,” ujarnya.
Ia berharap penyelenggaraan haji tahun ini menjadi ajang pembuktian bagi Kementerian Haji yang baru dibentuk. Menurut Netty, lembaga itu harus mampu menghadirkan layanan yang lebih ramah lansia sekaligus responsif terhadap kebutuhan kesehatan jemaah.

