JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin, 18 Mei 2026. Indeks dibuka di level 6.628,59, turun dari penutupan pekan lalu di posisi 6.723,32, bahkan sempat merosot hingga 4,28 persen ke level 6.435 pada pukul 10.00 WIB.
Seiring dengan merosotnya bursa saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ikut tertekan. Pagi ini, rupiah melemah 33 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.630 per dolar AS, dan terus merosot hingga menyentuh angka Rp17.672 per dolar AS.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa volatilitas tinggi ini dipicu oleh agenda *rebalancing* indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya, pelaku pasar global sedang melakukan penyesuaian portofolio, yang memberikan dampak signifikan pada sesi *closing auction*.
Meski begitu, Imam melihat adanya peluang rotasi aliran dana masuk (*inflow*) ke sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti BMRI, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, dan TOWR. Secara fundamental, ia menilai ekonomi domestik masih resilien dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026.
“Tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknis dan mekanisme *global rebalancing*, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi domestik secara struktural,” ujar Imam. Ia menyarankan investor untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko hingga arus dana asing kembali stabil.
Sementara itu, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar global terhadap hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pasar kecewa karena pertemuan tersebut tidak memberikan solusi konkret atas perang antara AS-Iran.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah ini memicu fenomena *risk off* global, di mana investor melakukan aksi jual (*sell off*) terhadap aset berisiko seperti saham, obligasi, kripto, hingga mata uang. Kondisi ini diperburuk dengan kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik terkait program nuklir Iran yang belum menemui titik terang.
Di sisi lain, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti faktor domestik yang turut membebani mata uang nasional. Menurutnya, respons pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai dampak penguatan dolar bagi masyarakat desa sempat memicu persepsi negatif di kalangan pelaku pasar modal.
Di tengah situasi ini, harga minyak mentah dunia terpantau kembali naik. Meskipun AS dan Cina sepakat menjalin beberapa kerja sama, pasar dinilai lebih mencemaskan lonjakan harga energi akibat ketegangan yang masih terus berlanjut di kawasan Timur Tengah.

