Jakarta – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama 2026, nama Nusron Wahid kembali mengemuka sebagai sosok yang dipandang layak memimpin arah baru organisasi itu. Ia disebut sebagai figur santri yang tumbuh dari tradisi pesantren, merintis jalan panjang melalui pengabdian, organisasi, hingga dunia politik, tanpa kehilangan akar kesantriannya.
Jejak Nusron dikaitkan dengan Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, di bawah bimbingan Syaikhina Maimun Zuber. Dari lingkungan itulah, tulisan ini menempatkan sanad keilmuannya sebagai rantai yang tidak semata-mata bersifat genealogis, melainkan juga spiritual dan moral. Dalam pandangan itu, menjadi santri bukan hanya soal membaca kitab kuning, tetapi juga memahami kehidupan dengan kejernihan batin.
Di perantauan, Nusron digambarkan tidak canggung menjalani hidup sederhana. Ia disebut pernah menjadi marbot masjid, membersihkan ruang ibadah, dan menekuni kemiskinan sebagai bagian dari proses pembentukan diri. Dari pengalaman itulah lahir keyakinan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan, bukan penguasa.
Perjalanan organisasinya juga menjadi bagian penting dari narasi tersebut. Nusron disebut menggenggam dua jalur sekaligus, HMI dan PMII, yang kerap dipersepsikan berbeda. Namun, keduanya justru dipandang sebagai ruang perjumpaan yang saling melengkapi. Sikap itu kemudian melahirkan gagasan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan bahan untuk dirajut menjadi kekuatan bersama.
Di arena politik, ia juga dikaitkan dengan Partai Golkar. Namun, keterlibatannya disebut bukan didorong nafsu kuasa, melainkan pragmatisme yang lahir dari kecintaan. Dalam penilaian itu, Nusron digambarkan mampu melewati perubahan rezim tanpa kehilangan keluwesan, seperti bambu yang tetap tegak setelah diterpa angin.
Memasuki 2026, ia disebut sebagai salah satu jangkar bagi bahtera NU. Ia digambarkan rajin mendatangi rumah kiai dan ulama, menyambangi majelis zikir, serta mencium tangan para masyayikh tanpa membeda-bedakan sekat yang dianggap sengaja diciptakan pihak luar. Ia juga dinilai peka membaca bahwa banyak pertengkaran internal hanya merupakan debu yang ditiupkan musuh ke mata warga nahdliyin.
Karena itu, sikapnya dipilih tetap teduh. Ia tidak didorong menjadi sosok yang memanaskan suasana, melainkan menjaga agar perbedaan kecil tidak berubah menjadi bara. Dalam sudut pandang tulisan itu, perbedaan hanyalah kerikil yang tak pantas dijadikan gunung, apalagi jika yang akan terluka adalah jamaah pengajian dan para bapak tahlilan yang merindukan ketenangan.
Nusron juga digambarkan enggan tampil sebagai mediator bergaya, apalagi menjadikan diplomasi sekadar panggung pencitraan. Ia diposisikan sebagai pribadi yang memahami bahwa diplomasi menuntut kejernihan batin dan pengetahuan geopolitik yang rumit, bukan sekadar jas dan dasi. Karena itu, kemuliaan NU disebut lebih pantas dirawat di ruang-ruang kecil: mushola desa, balai pengajian, hingga dapur santri.
Sikap tawaduk itu, dalam tulisan tersebut, disebut sebagai andhap asor yang sejati. Kecintaan kepada kiai dan ulama digambarkan bukan kosmetik politik, melainkan kasih yang mengalir seperti air hujan ke akar. Begitu pula perhatian kepada santri dan anak muda, yang digambarkan bukan sebagai objek suara, melainkan manusia yang dibiarkan tumbuh.
Di penghujung narasi, Nusron diposisikan sebagai jawaban atas harapan sejumlah kalangan yang menginginkan pemimpin NU tak hanya fasih berbicara soal langit, tetapi juga sanggup menggarap bumi. Muktamar 2026 digambarkan menanti kehadirannya seperti tanah kering menunggu hujan pertama. Amanah para muassis disebut diletakkan di pundaknya dengan harapan ia melangkah tenang, teduh, dan pasti.
Tulisan itu menutup dengan seruan agar Nusron membawa NU kembali ke akar kesejatan-menjadi pelayan umat, bukan pemecah, menjadi teduh, bukan gaduh. Di tangannya, NU diharapkan tetap kokoh seperti pohon besar: berakar kuat di bumi, menjulang ke langit, dan terus menaungi siapa pun yang berteduh di bawahnya.

