Jakarta – Aktivitas industri rumah tangga dan pergudangan menjadi faktor utama pemicu kebakaran di Cengkareng Timur, Pegadungan, dan Pulogebang. Wilayah tersebut memiliki zona campuran antara hunian, industri kecil seperti konveksi dan bengkel, serta gudang.
Penyimpanan bahan kimia atau material mudah terbakar, seperti stok kain dan plastik, tanpa sistem proteksi memadai meningkatkan risiko api skala besar. Selain itu, kelalaian operasional seperti aktivitas pengelasan atau penggunaan kompor industri yang kurang diawasi berpengaruh besar.
"Faktor keempat tantangan geografis dan infrastruktur. Meskipun bukan penyebab langsung ‘api’, faktor ini menyebabkan frekuensi laporan tetap tinggi karena api kecil sulit dipadamkan secara mandiri," kata Yohan.
Tantangan geografis dan infrastruktur tersebut berupa akses jalan sempit hingga keterbatasan sumber air. "Di beberapa area padat, akses ke hidran mandiri atau sumber air alami seringkali tertutup oleh bangunan liar," ujar Yohan.
Faktor manusia atau human error, meliputi kelalaian penggunaan kompor serta pembakaran sampah, juga kerap menjadi penyebab kebakaran di lima wilayah tersebut. BPBD DKI Jakarta kini melakukan langkah mitigasi secara berkala.
"Pihak BPBD dan Dinas Gulkarmat biasanya memprioritaskan wilayah-wilayah ini untuk program Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) dan pemasangan Lampu Otomatis Pemutus Arus (LOVA) guna menekan angka kebakaran akibat korsleting listrik," tandasnya.

