Depok – Mahdi meminta pertemuan dengan korban pada 17 November 2025 di Depok. Ia membatalkan seluruh kegiatannya hari itu. Sejumlah pihak hadir, di antaranya Abi Makki dan Yusuf Mansur.
Dalam pertemuan itu, dibahas juga peristiwa tahun 2021 yang sempat terjadi di kediaman Muhammad Cholil Nafis. Masalah lain muncul saat korban disebut terpencar. Salah satu korban bahkan berada di Mesir dan masih di bawah umur.
"Saya bilang jangan di-blow up dulu. Kita amankan dulu anak ini," ujarnya.
Malam itu juga, Mahdi mengaku langsung menghubungi Kementerian Luar Negeri dan Komisi I DPR untuk meminta perlindungan.
"Setengah jam kemudian saya ditelepon KBRI. Korban langsung direspons dan diawasi sampai kembali ke Indonesia," ujar dia.
Penelusuran lalu mengarah ke Bandung. Pada 19 November, Mahdi bertemu korban yang mengalami trauma berat.
"Tidak gampang meyakinkan korban. Dia trauma, bahkan tidak respek lagi sama ustaz," ujarnya.
Setelah berjam-jam, korban akhirnya bercerita. Dari pertemuan di Bandung, Mahdi menangkap satu pola ceritanya.
Kisah bermula dari Purbalingga, saat korban berusia 15 tahun. Pelaku datang ke pesantren, menawarkan keberangkatan ke Mesir untuk menjadi hafiz. Setelah korban setuju, muncul dalih "cek fisik" yang, menurut pengakuan korban, berujung pada sentuhan di bagian sensitif.
Perjalanan ke Mesir tetap berlangsung. Namun sebelum itu, di Jakarta, tindakan serupa disebut kembali terjadi. Kali ini dengan alasan melatih kemampuan berbicara.


