Jakarta, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan pekan ini dengan pelemahan signifikan di level Rp17.963 per dolar AS.
Kondisi tersebut mencatatkan depresiasi harian sebesar 0,15% serta akumulasi pelemahan mingguan mencapai 0,23% pada penutupan pasar Jumat (24/7/2026).
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia turut mengonfirmasi tren negatif tersebut dengan koreksi 0,32% ke posisi Rp17.973 per dolar AS.
Pelemahan mata uang domestik ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Serangan militer yang menyasar infrastruktur strategis kedua belah pihak di Timur Tengah telah memicu kecemasan pasar terhadap gangguan rantai pasok energi global.
Potensi ancaman terhadap jalur distribusi minyak di Selat Hormuz diperkirakan bakal mendongkrak harga minyak mentah dunia secara drastis.
Kenaikan harga energi tersebut secara langsung menekan ekspektasi inflasi global dan memengaruhi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa situasi ini menciptakan ketidakpastian mendalam bagi investor di pasar keuangan.
“Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa tingginya biaya energi berpotensi memaksa The Fed menahan suku bunga acuan di level tinggi untuk jangka waktu lebih lama.
Selain tekanan eksternal, ekonomi domestik juga menghadapi tantangan besar akibat melambatnya laju investasi serta konsumsi rumah tangga yang masih lesu.
Daya beli yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi masih tertahan di bawah kisaran angka 5%.
Para pelaku usaha saat ini cenderung lebih memilih untuk menunda rencana ekspansi bisnis mereka di tengah ketidakpastian ekonomi yang tinggi.
Kebijakan Bank Indonesia dalam mempertahankan suku bunga acuan dinilai belum memberikan stimulus yang cukup kuat untuk menopang nilai tukar rupiah.
Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang Garuda untuk sepekan ke depan akan berada dalam rentang Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS.
Sementara itu, Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menyoroti pentingnya mencermati kebijakan tarif perdagangan dari Amerika Serikat.
Kebijakan tarif tersebut dinilai berpotensi memperkuat status dolar AS sebagai aset safe haven di tengah gejolak pasar global.
Pasar saat ini tengah menanti serangkaian data ekonomi krusial dari Amerika Serikat, termasuk keputusan suku bunga FOMC dan rilis data produk domestik bruto.
Data pasar tenaga kerja serta Core PCE Price Index juga akan menjadi indikator utama bagi investor dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
“Seluruh faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan,” terang Amru.
Ia menambahkan bahwa volatilitas masih akan membayangi rupiah dengan estimasi pergerakan di level Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.


