Paris – Putri Kusuma Wardani berhasil mengamankan medali perunggu Kejuaraan Dunia 2025, mengakhiri penantian panjang 10 tahun bagi sektor tunggal putri Indonesia di ajang prestisius ini. Meski langkahnya terhenti di semifinal oleh pebulutangkis unggulan Jepang, Akane Yamaguchi, torehan Putri KW menjadi satu-satunya medali yang dibawa pulang tim Merah Putih dari Paris, Prancis.
Pemain asal Tangerang ini harus mengakui keunggulan Akane Yamaguchi setelah melewati pertarungan tiga gim yang intens. Berlaga di Adidas Arena, Paris, Prancis, Sabtu (30/8), Putri KW kalah dengan skor 17-21, 21-14, 6-21.
Pada gim pertama, Putri KW menunjukkan perlawanan sengit, berhasil mengimbangi permainan Akane hingga skor 14-14 sebelum akhirnya kehilangan gim tersebut dengan selisih empat angka.
Momentum berbalik di gim kedua. Putri KW tampil dominan sejak awal, unggul di interval, dan berhasil memenangkan gim dengan keunggulan tujuh poin, memaksa pertandingan berlanjut ke gim penentuan.
Sayangnya, performa Putri KW menurun drastis di gim ketiga. Juara dunia 2021 dan 2022, Akane Yamaguchi, menunjukkan kelasnya, membuat pemain yang juga polisi wanita aktif itu hanya mampu meraih enam poin dan harus menyerah.
Keberhasilan Putri KW meraih perunggu ini sangat berarti. Selain menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang membawa pulang medali dari Kejuaraan Dunia 2025, capaian ini juga mengakhiri dahaga prestasi tunggal putri Indonesia di turnamen level dunia.
Terakhir kali tunggal putri Indonesia meraih medali perunggu adalah pada Kejuaraan Dunia 2015 melalui Lindaweni Fanetri. Saat itu, Lindaweni melaju ke semifinal setelah mengalahkan Tai Tzu Ying dalam pertarungan dramatis, menyelamatkan enam match point di gim kedua, dan menang 14-21, 22-20, 21-12.
Langkah Lindaweni kala itu juga terhenti di semifinal setelah dikalahkan unggulan kedua dari India, Saina Nehwal, dengan skor 17-21, 17-21.
Capaian Putri KW kini mengulang sejarah yang ditorehkan Lindaweni Fanetri, membawa harapan baru bagi sektor tunggal putri Indonesia.
Adapun juara dunia tunggal putri terakhir dari Indonesia adalah Susy Susanti pada tahun 1993. Sebelumnya, Verawaty Fadjrin juga berhasil meraih gelar juara dunia di sektor yang sama pada tahun 1980.

