Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pembahasan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) masih terus bergulir, dengan fokus pada perumusan skema optimal bersama Danantara. Pemerintah berupaya memastikan seluruh aspek tercerna dengan matang sebelum melangkah ke tahap negosiasi final dengan pihak Tiongkok.
Pernyataan ini disampaikan Purbaya usai melakukan pertemuan dengan CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, di kantor Kementerian Keuangan pada Rabu, 3 Desember 2025. Keduanya mendiskusikan berbagai agenda krusial, termasuk pencarian “bentuk yang pas” untuk restrukturisasi utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh.
Purbaya menambahkan, tim teknis dari Kementerian Keuangan dan Danantara akan segera merinci skema restrukturisasi utang tersebut. Kendati demikian, pemerintah telah memiliki gambaran besar mengenai langkah-langkah strategis yang akan diambil ke depan untuk menyelesaikan persoalan ini.
Mengenai rencana kunjungan ke Tiongkok, Bendahara Negara itu menegaskan pentingnya kepastian mengenai siapa pihak yang akan ditemui. Apakah itu China Development Bank atau National Development and Reform Commission (NDRC). “Nanti jika sudah jelas siapa yang akan ditemui dan skemanya seperti apa, barulah kami akan berangkat ke Cina,” jelas Purbaya.
Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, pada Kamis, 23 Oktober 2025, menyatakan optimisme bahwa restrukturisasi utang Whoosh akan rampung pada tahun ini. Ia memastikan negosiasi intensif dengan pihak Tiongkok masih berlangsung.
Dony mengungkapkan, Danantara segera bertolak ke Tiongkok untuk menegosiasikan berbagai ketentuan pinjaman. Poin-poin diskusi utama meliputi jangka waktu pinjaman, besaran suku bunga, serta opsi penggunaan mata uang yang akan disepakati.
Pemerintah saat ini terus mengkaji semua opsi restrukturisasi demi mencapai kesepakatan terbaik yang tidak hanya meringankan beban, tetapi juga mendukung keberlanjutan proyek. Bagi PT KCIC selaku pengelola Whoosh, fokus utama tetap pada peningkatan kualitas layanan kereta cepat ke depan.


