IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
News

Kisah Inspiratif Penyintas Terorisme Mengubah Luka Menjadi Kekuatan Bangkit

Tony Soemarno berbicara dalam gelar wicara tentang pemulihan penyintas terorisme di The Tribrata, Jakarta.
Penyintas bom Hotel J.W. Marriott 2003, Tony Soemarno, berbagi pengalaman tentang proses pemulihan trauma di Jakarta.

Jakarta, Gonesia.com – Penyintas tragedi bom Hotel J.W. Marriott 2003, Tony Soemarno, menekankan bahwa proses pemulihan trauma mendalam akibat aksi terorisme memerlukan waktu panjang serta dukungan sosial yang konsisten.

Ia menyatakan bahwa dampak dari serangan teror tidak hanya terbatas pada luka fisik yang terlihat, melainkan juga meninggalkan bekas psikologis dan batin yang kompleks bagi para korban.

Pernyataan tersebut disampaikan Tony dalam sesi gelar wicara bertajuk “Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit” yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta, Jumat (21/8), sebagaimana dikutip dari JPNN.com.

Menurut dia, pendampingan yang berkelanjutan menjadi instrumen krusial bagi setiap penyintas untuk menata kembali kehidupan mereka setelah mengalami peristiwa traumatis.

Ia menuturkan bahwa perjalanan menuju pemulihan memerlukan pergeseran paradigma dari rasa sakit menjadi penerimaan diri.

Ketua DPD RI Dorong Penguatan Restorasi Gambut Atasi Karhutla Kalimantan

“Awalnya sangat sulit untuk bangkit. Namun, saya sampai pada satu titik di mana saya berpikir bahwa pelaku teror pun manusia yang bisa berbuat salah. Saya memilih untuk saling memaafkan dan tidak ingin menyimpan dendam, karena hati yang damai adalah apa yang Tuhan kehendaki,” ujar Tony.

Sikap memaafkan tersebut menjadi titik balik fundamental bagi Tony dalam memaknai ulang pengalaman pahitnya sebagai seorang penyintas.

Ia kemudian berupaya mentransformasi pengalaman traumatik tersebut menjadi pesan perdamaian bagi masyarakat luas.

Dirinya kini enggan memposisikan diri hanya sebagai korban aksi terorisme semata.

Berkat fasilitasi dan pendampingan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ia berhasil mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku berjudul The Power of Forgiveness.

Polda Riau Kerahkan 5 Ahli Usut Kebakaran Lahan di PT TKWL

Sebagai wujud nyata dari upaya perdamaian, ia bahkan berani mengambil langkah berani dengan mengunjungi lembaga pemasyarakatan untuk berdialog langsung dengan narapidana terorisme.

Ia menegaskan bahwa langkah tersebut diambil bukan untuk melupakan tragedi yang pernah merenggut kedamaian hidupnya.

Sebaliknya, ia ingin memastikan agar luka masa lalu tidak bermutasi menjadi kebencian yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perspektif senada juga diungkapkan oleh Mariane Ka’awoan, seorang penyintas Bom Pasar Tentena, Poso, yang terjadi pada tahun 2005.

Ia berpendapat bahwa pemulihan bukanlah upaya untuk menghapus ingatan tentang peristiwa kelam yang pernah dialami.

Jelang HUT ke-81 RI, Tim Paskibraka Gelar Gladi Bersama di Istana

Sebaliknya, pemulihan adalah proses memaknai kembali pengalaman masa lalu agar tidak berujung pada akumulasi kebencian.

“Kalau saya tidak memaafkan, saya tidak akan memiliki kedamaian dan sukacita. Kebencian tidak pernah mewariskan kedamaian,” tegas Mariane.

Pengalaman hidup yang dibagikan oleh Tony dan Mariane menjadi refleksi penting mengenai urgensi dukungan berkelanjutan bagi penyintas terorisme di Indonesia.

Pada momentum Peringatan Hari Internasional Korban Terorisme 2026 ini, proses pemulihan menjadi fokus utama negara.

Pemerintah berkomitmen memastikan setiap penyintas mendapatkan pemenuhan hak, rasa aman, serta kesempatan untuk kembali berkontribusi aktif dalam kehidupan sosial.

Semangat inklusif ini dirangkum dalam tema besar “Healing Through Memories” yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Tema ini bertujuan menjadikan memori masa lalu sebagai sarana pembelajaran sekaligus kekuatan untuk membangun perdamaian yang lebih kokoh.

Kehadiran negara melalui BNPT dan berbagai mitra dinilai sangat membantu penyintas dalam menempuh jalan panjang menuju pemulihan total.

Narasi perdamaian yang digaungkan oleh para penyintas ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk lebih mengedepankan empati dibandingkan kebencian.

Upaya ini sekaligus menjadi bentuk nyata dari ketangguhan individu dalam menghadapi dampak destruktif dari aksi terorisme di tanah air.

Komentar

Berita Populer

01

Saham Blue Chip Tertekan, Simak Peluang Rebound Semester II 2026

02

Manufaktur Indonesia Targetkan Pertumbuhan 5,51 Persen di 2026

03

Contraflow Jakarta-Cikampek KM 55-65 Berlaku: Cek Info Terbaru!

04

PLTMG Gunungsitoli Amankan Listrik Nias, Hadapi Cuaca Ekstrem Saat Nataru

05

Profil Erling Haaland: Harapan Norwegia dan Kandidat Top Skor Piala Dunia 2026

06

Biochar Sisik Ikan Perkuat Komposit Serat Karbon, Kurangi Limbah, Tingkatkan Kekuatan

07

Petugas PPSU Jakarta Utara Menjaga Integritas Kerja di Tengah Godaan Manipulasi

08

Bencana Sumatra Rusak Parah 54 Sekolah; Siswa Belajar di Tenda

Berita Terbaru