Ekonomi

DXY Tetap Perkasa Didorong Permintaan Safe Haven dan Yield US Treasury

JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) terus mencatatkan penguatan yang dipicu oleh kombinasi sentimen *safe haven* dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (*US Treasury*). Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas serta memudarnya optimisme perundingan damai menjadi katalis utama tingginya permintaan terhadap mata uang Paman Sam tersebut.

Selain sentimen geopolitik, pasar kini tengah menantikan rilis data inflasi AS atau *Consumer Price Index* (CPI). Data yang diprediksi masih solid ini memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberikan tekanan tambahan bagi pasar keuangan global. Fenomena ini tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.535 sebelum akhirnya ditutup di angka Rp 17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5).

Ke depan, pergerakan indeks dolar AS akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter The Fed, perkembangan inflasi, dan dinamika geopolitik global. Dalam jangka pendek, dolar AS diprediksi tetap resilien selama data ekonomi AS menunjukkan performa yang kuat dan inflasi belum melandai secara signifikan.

Namun, potensi penguatan indeks dolar diproyeksikan mulai terbatas jika ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada semester II-2026 meningkat, tensi geopolitik mereda, serta *risk appetite* atau selera risiko investor global kembali membaik.

BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga ke 5 Persen demi Perkuat Rupiah

Secara teknikal, indeks dolar AS diperkirakan akan bergerak dalam rentang 97,5–99,5 dalam waktu dekat. Sementara untuk sepanjang semester I-2026, indeks dolar diproyeksikan berada di kisaran 96–100, dengan catatan bahwa angka tersebut tetap sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga dan stabilitas global.

Jika inflasi AS tetap *sticky* atau sulit turun dan proses pemangkasan suku bunga berjalan lebih lambat dari ekspektasi pasar, dolar AS memiliki peluang besar untuk tetap bertahan di level tinggi.

Di tengah dominasi dolar AS, sejumlah mata uang lain masih dilirik investor sebagai aset *safe haven*. Yen Jepang (JPY) menjadi pilihan utama saat volatilitas pasar meningkat berkat posisi eksternal yang kuat. Franc Swiss (CHF) juga tetap menjadi aset defensif yang menarik karena stabilitas sistem keuangan negara tersebut. Selain itu, dolar Singapura (SGD) dinilai cukup menjanjikan di kawasan Asia berkat fundamental makroekonomi yang stabil dan kredibilitas kebijakan moneter yang terjaga.

Komentar

Berita Populer

01

Bapenda Sumbar Latih Pemeriksa Pajak untuk Tingkatkan PAD

02

Purbaya Jelaskan Sumber Gaji Manajer Kopdes Merah Putih

03

Rahmat Saleh Tekankan Guru Bentuk Karakter di Era AI

04

BSI Maslahat Resmikan Wakaf Sumur Bor, Atasi Krisis Air Desa Maman

05

AHY Gagas Giant Sea Wall Pantura Libatkan Investor dan 23 Kementerian

06

TB Hasanuddin Desak Kajian Matang Hibah Kapal Induk Italia

07

Basarnas Pastikan Masih Bisa Komunikasi dengan Korban Terhimpit Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

08

Pasaman Pacu 400 Atlet Lewati Tes Fisik Porprov 2026

Berita Terbaru










× www.domainesia.com
× www.domainesia.com