Yogyakarta – Bank Indonesia (BI) secara signifikan telah menurunkan volume Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp 923,53 triliun menjadi Rp 720,61 triliun hingga 19 Agustus 2025. Langkah ini ditempuh untuk menjaga likuiditas perbankan melalui pengelolaan instrumen operasi moneter yang lebih terarah dan efisien.
Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Ronald D. Parluhutan, mengungkapkan bahwa penurunan volume SRBI ini merupakan strategi operasi moneter yang pro-pasar. Strategi tersebut berfokus pada pengelolaan likuiditas secara terukur, transparan, dan berbasis pasar.
Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter. “Upaya atau kebijakan ini untuk mendukung kecukupan likuiditas pasar baik di pasar uang maupun di perbankan serta nanti kita harapkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Ronald di Yogyakarta, Jumat (22/8/2025).
Penurunan volume SRBI juga diiringi dengan menurunnya imbal hasil atau yield SRBI, terutama untuk tenor 12 bulan. Pada 8 Agustus 2025, yield SRBI tenor 12 bulan berada di level 5,34 persen. Penurunan yield ini selaras dengan langkah BI yang telah memangkas suku bunga acuan beberapa kali sejak awal 2025, dengan total penurunan mencapai 100 basis poin hingga 20 Agustus 2025.
Meskipun volume SRBI berkurang, Ronald memastikan transaksi SRBI di pasar sekunder tetap relatif terjaga. Porsi kepemilikan SRBI oleh nonresiden atau investor asing tercatat sebesar Rp 146,78 triliun per 31 Juli 2025, atau 19,81 persen dari total outstanding Rp 740,78 triliun. “Jadi kepemilikannya nonresiden masih terjaga,” tambahnya.
Menurutnya, penurunan outstanding SRBI membuka ruang lebih besar bagi likuiditas di pasar uang. Komposisi instrumen operasi moneter disesuaikan dengan lebih banyak porsi pada tenor pendek untuk mendukung ekspansi likuiditas. “Dengan penurunan komposisi SRBI ke Rp 720 triliun, komponen tenor yang lebih pendek kami tingkatkan agar likuiditas perbankan lebih longgar dan ekonomi dapat terus tumbuh,” pungkas Ronald.

