IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

OJK Ajak Generasi Muda Jadi Duta Literasi Keuangan Digital

Katadata financial healing: OJK ajak generasi muda jadi duta literasi keuangan

Jakarta Selatan – Pesatnya transaksi keuangan digital memang memudahkan masyarakat beraktivitas finansial, tetapi di saat yang sama juga memperbesar ancaman penipuan daring. Kondisi itu mendorong literasi dan kewaspadaan menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar.

Peringatan tersebut mengemuka dalam Katadata Financial Healing 2026 bertema Cerdas Literasi Keuangan Digital Aman Bertransaksi, Bijak Berinvestasi yang berlangsung di Taman Literasi Martha Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (03/10/2026). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang mempertemukan generasi muda, pelaku industri, dan regulator untuk membahas pengelolaan keuangan di tengah laju digitalisasi.

Saat membuka acara, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dicky Kartikoyono menyoroti maraknya risiko penipuan di ekosistem keuangan digital. Ia meminta generasi muda tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga ikut menyebarkan pengetahuan finansial di lingkungannya.

“Kalau bahasa teknologi, tech savvy itu ya adik-adik. Dan saya harapkan dari adik-adik ini bisa kemudian menjadi duta. Duta literasi keuangan Indonesia,” ujar Dicky.

Ia memaparkan sejumlah pola penipuan yang kerap dipakai pelaku kejahatan digital. Modus itu antara lain pesan yang meminta penerima mengunduh aplikasi atau APK tertentu, kabar palsu tentang anggota keluarga yang sedang butuh bantuan, hingga transaksi yang ternyata berkaitan dengan rekening atau pinjaman ilegal.

Emiten Borong Pinjaman Bank, Simak Prospek dan Rekomendasi

“APK itu sebuah sistem yang bisa menarik data dari telepon seluler kita. Terakhir yang saya baru hari ini dapat, kita itu kadang-kadang sudah dikirimi uang masuk ke rekening, enggak tahu yang mengirim uang siapa? (ternyata) Pinjol ilegal,” kata Dicky.

Menurut dia, salah satu ciri yang patut dicurigai adalah dorongan untuk segera mengeklik tautan atau mengikuti instruksi dalam pesan tanpa sempat melakukan verifikasi. Dari sisi kerugian, Dicky menyebut nilai scam telah mencapai sekitar Rp12 triliun dalam dua tahun, meski angka itu belum menggambarkan kondisi sebenarnya karena tidak semua korban melapor.

Karena itu, OJK mendorong perubahan perilaku masyarakat lewat prinsip check before payment dan check before transfer. Lembaga tersebut juga tengah menyiapkan perangkat yang dapat membantu konsumen mengecek legalitas perusahaan maupun rekening sebelum bertransaksi.

Dicky menilai pendekatan perlindungan konsumen tak lagi cukup jika hanya bersifat reaktif setelah kerugian terjadi. Menurut dia, langkah antisipatif kini jauh lebih penting karena ekosistem keuangan digital berjalan dalam sistem yang terintegrasi, saling terkoneksi, dan mampu memproses transaksi sangat cepat.

Ia menyebut tiga karakter utama ekosistem tersebut sebagai integrated, interconnected, dan interoperated. Kelebihan itu memang memberi kemudahan, tetapi pada saat yang sama membuat risiko penipuan bisa menyebar lebih cepat.

Penjualan Domestik Mayora Menguat, Ekspor Disorong Inovasi Produk

Di sisi lain, Pemimpin Redaksi Katadata Yura Syahrul menekankan bahwa literasi keuangan menjadi fondasi agar masyarakat tidak hanya mudah mengakses layanan keuangan, tetapi juga mampu memakainya secara bijak. Menurut dia, perkembangan ekosistem digital membuat generasi muda semakin dekat dengan produk keuangan dan investasi, sehingga pemahaman yang memadai menjadi semakin mendesak.

Mengacu Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan berada di level 93,61 persen. Yura menilai capaian itu harus diikuti kemampuan masyarakat memahami kebutuhan keuangannya sendiri.

“Semakin banyak pilihan produk keuangan dan investasi, masyarakat perlu pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan,” ujarnya. Ia menambahkan, masyarakat juga harus memahami risiko dan memastikan layanan yang digunakan berada dalam ekosistem yang legal serta diawasi.

Karena itu, literasi keuangan tidak berhenti pada kemampuan membuka akses ke produk keuangan. Pemahaman tersebut juga menjadi bekal untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih terencana, mulai dari pengelolaan harian hingga menentukan instrumen investasi yang sesuai kemampuan.

Katadata Financial Healing 2026 juga menempatkan investasi sebagai bagian penting dari pengelolaan keuangan yang tidak boleh dilakukan secara spontan. Dalam panel diskusi pertama bertema Menyembuhkan Financial Lewat Investasi yang Bijak, Bukan Sekadar Ikut Tren, pembahasan diarahkan pada pentingnya memahami tujuan finansial sebelum memilih instrumen investasi.

Seluruh Sektor BEI Merah, Analis Sarankan Selektif Beli Saham

Investasi, dalam forum itu, diposisikan bukan semata soal mengejar keuntungan. Keputusan berinvestasi perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, tujuan, dan tingkat pemahaman risiko masing-masing individu.

Panel berikutnya mengulas Cara Cerdas Memilih Emas, Saham, dan Aset Kripto sebagai Tujuan Investasi. Sesi ini membahas karakteristik berbagai instrumen yang tengah banyak diminati masyarakat, sekaligus menyoroti hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menjatuhkan pilihan.

Kemudahan mengakses produk investasi lewat platform digital memang membuka lebih banyak opsi. Namun, kondisi itu juga menuntut masyarakat untuk lebih cermat memahami produk dan risikonya sebelum menempatkan dana.

Acara ini tidak hanya menghadirkan edukasi finansial, tetapi juga dibungkus dengan pertunjukan budaya dan hiburan agar pesan keuangan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu rangkaiannya adalah lakon wayang yang mengangkat kisah Puntadewa, nama lain Yudhistira dalam epos Mahabharata.

Dalam pementasan itu, Puntadewa digambarkan harus menanggung akibat setelah terjerat perjudian hingga kehilangan harta kekayaannya. Pesan yang dibangun dari kisah tersebut menjadi salah satu cara penyelenggara menyampaikan pentingnya kehati-hatian dalam urusan keuangan.

Penampilan musik dari Feel Koplo juga turut meramaikan acara. Melalui perpaduan edukasi, diskusi, pertunjukan budaya, dan hiburan, Financial Healing 2026 membawa pesan bahwa kesehatan finansial tidak cukup hanya dengan akses layanan keuangan, melainkan juga memerlukan pengetahuan, kewaspadaan, dan kebiasaan mengambil keputusan secara bijak.

Pada akhirnya, perluasan akses keuangan digital harus dibarengi kemampuan masyarakat untuk mengenali risiko, memeriksa informasi sebelum bertransaksi, dan memahami pilihan investasi sebelum menanamkan dana.

Komentar