New York, Gonesia.com – Bursa saham Amerika Serikat mengawali perdagangan bulan September dengan tren negatif akibat sentimen pasar yang tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi serta fluktuasi harga minyak mentah.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau melemah 102,3 poin atau 0,19% ke level 53.083,58 pada pembukaan sesi Selasa (1/9/2026).
Indeks S&P 500 turut tertekan dengan penurunan sebesar 50,7 poin atau 0,66% menjadi 7.635,47.
Nasdaq Composite mengalami tekanan paling dalam dengan koreksi sebesar 339,2 poin atau 1,29% ke posisi 26.031,67.
Aksi jual di pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat telah mendorong imbal hasil Treasury ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan imbal hasil ini secara otomatis mengurangi daya tarik saham karena investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman namun memberikan imbal hasil kompetitif.
“Ada sedikit kekosongan. Faktor makroekonomi kembali memegang kendali dan kita akan menghadapi beberapa bulan hingga muncul pembaruan dari perusahaan. Jadi, kita berpotensi memasuki periode yang bergejolak atau konsolidasi,” kata Angelo Kourkafas, Senior Global Investment Strategist Edward Jones.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran baru terkait inflasi yang mungkin memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.
Selain faktor eksternal, investor kini tengah mengantisipasi pola musiman yang secara historis kurang menguntungkan bagi pasar saham di bulan September.
Data historis sejak 1926 menunjukkan bahwa indeks S&P 500 rata-rata mencatat penurunan 0,7% selama bulan September.
Kondisi tersebut menjadikan September sebagai bulan dengan kinerja historis terburuk bagi bursa saham AS.
Kendati demikian, para analis menyarankan agar pelaku pasar tidak terburu-buru melakukan aksi jual berlebihan.
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial, menilai bahwa fundamental ekonomi saat ini masih menunjukkan ketahanan.
“Fundamental saham dan ekonomi masih solid. Kami menilai investor akan lebih diuntungkan dengan tetap berinvestasi melewati gejolak musiman dibandingkan mencoba menentukan waktu yang tepat untuk keluar dan masuk pasar,” ujarnya.
Fokus pelaku pasar selanjutnya tertuju pada rilis data pasar tenaga kerja melalui laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS).
Data tersebut dipandang krusial sebelum rilis laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan pada Jumat (4/9/2026).
Kedua indikator ini menjadi acuan utama bagi investor untuk memprediksi arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.
Sektor teknologi, khususnya saham-saham semikonduktor, terpantau mengalami tekanan jual yang cukup signifikan.
Saham Nvidia, Intel, dan AMD tercatat turun di kisaran 1,47% hingga 2,95% pada awal perdagangan.
Di sisi lain, saham sektor energi menunjukkan kinerja positif seiring dengan kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 1,71%.
Perusahaan seperti Exxon Mobil dan Devon Energy mencatat penguatan masing-masing sebesar 1,49% dan 1,44%.
Sementara itu, saham Robinhood berhasil menguat 1,51% pasca adanya peningkatan peringkat dari Morgan Stanley.
Kombinasi antara data ekonomi, kebijakan suku bunga, dan ketegangan geopolitik diperkirakan akan terus mendominasi pergerakan Wall Street sepanjang bulan ini.


