NEW YORK, Gonesia.com – Bursa saham Wall Street terpantau melemah pada perdagangan Kamis (27/8/2026) akibat tekanan data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar serta sikap kehati-hatian investor menanti rilis kinerja keuangan raksasa teknologi, Nvidia.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup terkoreksi 113,52 poin atau 0,21% ke level 53.463,88.
Indeks S&P 500 juga mencatatkan pelemahan tipis sebesar 1,58 poin atau 0,02% dan menetap di posisi 7.675,70.
Nasib serupa dialami oleh indeks Nasdaq Composite yang turun 21,10 poin atau 0,08% menjadi 26.130,20.
Data dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan bahwa inflasi tahunan pada Juli 2026 menyentuh angka 3,7%, yang sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Di saat yang bersamaan, laporan terpisah mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II-2026 berada di angka 1,5%.
Kondisi ekonomi ini menciptakan ketidakpastian baru mengenai langkah kebijakan yang akan diambil oleh bank sentral AS, Federal Reserve.
Seluruh pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan berlangsung di Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).
“Angka ini belum cukup untuk mengubah arah kebijakan bagi pertemuan bulan September, namun jika data berikutnya menunjukkan tren yang sama, The Fed mungkin akan merasakan tekanan lebih besar untuk mengambil tindakan,” ujar Ellen Zentner, kepala strategi ekonomi di Morgan Stanley Wealth Management, sebagaimana dikutip dari Kontan.
Keputusan kebijakan moneter pada bulan September mendatang menjadi krusial karena secara historis periode tersebut merupakan masa yang menantang bagi pasar saham.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang kini terdeteksi berada di level 38,1%.
Ketidakpastian kebijakan ini turut memicu kekhawatiran mengenai premi risiko di pasar keuangan global.
“Tidak ada krisis; situasinya lebih berkaitan dengan ekspektasi atau panduan yang akan kita terima dari The Fed serta langkah-langkah yang sedang diupayakan oleh Departemen Keuangan AS. Hal ini memicu ketidakpastian dan pada dasarnya meningkatkan premi risiko,” ujar Greg Tuorto, kepala investasi saham berkapitalisasi kecil dan menengah AS di Goldman Sachs Asset Management.
Namun, ia menambahkan bahwa kondisi fundamental ekonomi sebenarnya tetap menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.
“Namun, di sisi lain—sisi positifnya—kondisi ekonomi secara mendasar sangat baik. Kinerja laba perusahaan-perusahaan dalam portofolio kami maupun sejumlah perusahaan berkapitalisasi besar menunjukkan hasil yang luar biasa,” lanjutnya.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pergerakan saham Nvidia yang turun 1,6% menjelang pengumuman laporan laba kuartalan perusahaan.
Hasil kinerja Nvidia dinilai sangat menentukan keberlanjutan tren lonjakan saham-saham di sektor kecerdasan buatan (AI) yang mendominasi pasar belakangan ini.
Sebaliknya, saham Meta berhasil menguat 1,1% setelah perusahaan tersebut sepakat menyelesaikan sengketa hukum senilai US$ 18 miliar terkait dampak platform media sosial terhadap anak-anak.
Saham Apple turut mencatatkan kenaikan sebesar 1,1% di tengah fluktuasi pasar yang masih dipengaruhi oleh isu geopolitik dan kebijakan fiskal pemerintah AS.


