JAKARTA, Gonesia.com – Tren penulisan buku oleh para pejabat tinggi negara saat ini kian masif, namun fenomena tersebut ironisnya terjadi di tengah pemangkasan anggaran besar-besaran bagi institusi perpustakaan nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tercatat baru saja merilis 10 judul buku sekaligus pada 7 Agustus 2026.
Langkah serupa turut dilakukan oleh Asisten Khusus Presiden, Dirgayuza Setiawan, yang aktif menerbitkan literatur mengenai gagasan dan kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Beberapa karya yang ditulis atau disunting Dirgayuza antara lain berjudul Presiden Solusi, Taste of Nusantara, serta Inilah Prabowo Apa Adanya.
Buku-buku tersebut disinyalir menjadi instrumen strategis dalam pembentukan citra serta komunikasi politik bagi para pejabat di lingkaran kekuasaan.
Presiden Prabowo Subianto sendiri memang dikenal memiliki ketertarikan tinggi terhadap dunia literasi.
Ia pernah berujar bahwa ia menghabiskan dua hingga empat jam setiap hari membaca sebelum tidur.
Aktivitas produktif para pejabat ini berbanding terbalik dengan kondisi akses bacaan bagi masyarakat luas di berbagai daerah.
Data menunjukkan bahwa Perpustakaan Nasional (Perpusnas) kini harus melakukan efisiensi anggaran secara signifikan pada tahun 2026.
Menurut laporan Katadata, anggaran Perpusnas tahun ini hanya ditetapkan sebesar Rp378 miliar.
Nilai tersebut mencerminkan penurunan drastis hingga 47,6% dibandingkan alokasi tahun 2025 yang sempat mencapai Rp721,7 miliar.
Ia menambahkan, efisiensi anggaran ini secara langsung membatasi kemampuan lembaga dalam menyalurkan bantuan bacaan bermutu.
Keterbatasan dana tersebut berimbas pada minimnya distribusi buku ke perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, lembaga pemasyarakatan, hingga puskesmas.
Selain itu, penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik untuk pembangunan sarana perpustakaan daerah pun kini menghadapi tantangan berat.
Kesenjangan distribusi buku ini memperburuk potret literasi nasional yang memang belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor membaca Indonesia masih tertahan di angka 359 poin.
Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-63 dari total 81 negara yang disurvei.
Kondisi akses fisik terhadap buku juga masih sangat memprihatinkan berdasarkan data Perpusnas tahun 2021.
Rasio ketersediaan buku di Indonesia tercatat sangat timpang dengan perbandingan satu buku ditunggui sekitar 90 penduduk.
Kesenjangan akses ini kontras dengan maraknya produksi buku yang justru datang dari kalangan pejabat negara.
Upaya meningkatkan minat baca publik kini terbentur oleh realitas anggaran negara yang lebih memprioritaskan efisiensi ketimbang perluasan jangkauan literasi.
Tantangan bagi pemerintah ke depan adalah menyeimbangkan antara citra politik melalui literatur dengan pemenuhan hak dasar masyarakat atas akses buku yang layak.


