HOUSTON, Gonesia.com – Ancaman sanksi ekonomi baru dari pemerintah Amerika Serikat terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak mentah global pada perdagangan penutup pekan, Sabtu (22/8/2026).
Ketegangan geopolitik yang kembali memanas ini mendorong kekhawatiran pasar akan pengetatan pasokan energi secara signifikan dalam beberapa pekan ke depan.
Data pasar menunjukkan harga minyak mentah berjangka Brent ditutup pada level US$ 94,39 per barel setelah mengalami kenaikan sebesar 61 sen atau 0,65 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat turut mencatatkan kenaikan 23 sen atau 0,26 persen menjadi US$ 87,06 per barel.
Secara akumulatif, Brent telah mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 6,39 persen, sedangkan WTI membukukan pertumbuhan sebesar 5,66 persen.
Kedua patokan harga minyak ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada sesi perdagangan sebelumnya.
John Kilduff, mitra di Again Capital sebagaimana dikutip dari Reuters, menegaskan bahwa tekanan ekonomi menjadi instrumen utama Washington.
“Sanksi adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Iran tunduk,” ujar dia.
Pihak Teheran sendiri telah merespons ancaman tersebut dengan pernyataan keras yang menyebutkan bahwa balasan mereka terhadap Washington akan bersifat menghancurkan.
Eskalasi retorika ini terjadi setelah Amerika Serikat menjanjikan hukuman finansial paling berat dalam sejarah dengan target penggulingan kepemimpinan Iran.
Analis riset di Empire FX, Crispus Nyaga, menilai bahwa dampak fisik dari sanksi ini mungkin tidak akan terasa instan bagi pasar global.
Ia menambahkan bahwa ekspor minyak Iran saat ini memang sudah terhambat secara drastis akibat blokade angkatan laut Amerika Serikat.
Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan insiden pelayaran serta tindakan balasan atas sanksi dapat memperburuk kondisi lalu lintas di Selat Hormuz yang saat ini masih jauh dari level normal.
Di sisi lain, analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn, memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai ketergantungan pasar pada Selat Hormuz.
Menurut dia, meskipun akses di Selat Hormuz masih terbatas, pasar mulai menemukan solusi alternatif melalui diversifikasi sumber pasokan.
Ia menjelaskan bahwa jalur pipa, penggunaan kapal pengangkut, peningkatan produksi minyak serpih Amerika Serikat, serta pemulihan produksi Venezuela menjadi penyeimbang.
“Hormuz masih menjadi masalah, tetapi bukan lagi satu-satunya isu utama,” ujar Flynn dalam catatan pagi.
Ia melanjutkan bahwa Uni Emirat Arab yang tidak terkendala produksi turut membantu menjaga volume pasokan global tetap terjaga.
Ketidakpastian ini diperparah oleh pembatasan pasokan yang terus berlanjut dari produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.
Data layanan pelacakan kapal Kpler mencatat hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis, angka ini turun separuh dari volume hari sebelumnya.
Sebagai informasi, Selat Hormuz sebelum konflik ini pecah menangani sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair global.
Gangguan arus energi juga terjadi di wilayah lain, menyusul laporan serangan militer Ukraina terhadap kilang minyak Rusia di kota Perm.
Presiden Volodymyr Zelenskiy mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menghantam target yang berjarak lebih dari 1.600 kilometer dari perbatasan Ukraina.


