Jakarta, Gonesia.com — Kinerja emiten konglomerat di Bursa Efek Indonesia sepanjang semester I-2026 menunjukkan anomali tajam antara pertumbuhan pendapatan dan perolehan laba bersih.
Banyak perusahaan besar mencatatkan kenaikan penjualan secara tahunan, namun gagal mempertahankan profitabilitas akibat tekanan margin yang signifikan.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menjadi salah satu contoh dengan pendapatan yang tumbuh 9% menjadi Rp 65,53 triliun, tetapi laba bersihnya justru merosot 19% menjadi Rp 4,72 triliun.
Fenomena serupa melanda PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik taipan Prajogo Pangestu yang mencatat lonjakan pendapatan 71,6% menjadi US$ 5,69 miliar, namun laba bersihnya anjlok 64,8% menjadi US$ 190 juta.
Kondisi lebih menantang dialami PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang membukukan kenaikan pendapatan sebesar 22,7% menjadi Rp 10,81 triliun, namun harus menanggung kerugian sebesar Rp 4,23 triliun.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa keberagaman kinerja ini dipicu oleh beban operasional yang membengkak.
“Banyak emiten mencatat pertumbuhan pendapatan, tetapi tidak seluruhnya mampu mengonversinya menjadi laba karena tekanan margin, biaya pendanaan, dan faktor non-operasional,” katanya kepada Kontan, Rabu (5/8).
Di tengah tekanan tersebut, emiten sektor perkebunan milik Grup Salim seperti PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) justru tampil kontras dengan mencatatkan pertumbuhan pendapatan 16% dan kenaikan laba bersih 25%.
Liza menilai bahwa untuk sisa tahun 2026, sektor pusat data, infrastruktur digital, energi terbarukan, dan perkebunan memiliki prospek pertumbuhan yang paling menjanjikan.
Ia menyoroti potensi DCII dan TOWR sebagai penggerak di sektor infrastruktur digital, serta BREN yang memiliki eksposur kuat pada energi terbarukan.
“Peluang pertumbuhan terkuat masih berada pada data center dan infrastruktur digital seperti DCII dan TOWR, energi terbarukan melalui BREN, serta perkebunan seperti AALI dan LSIP,” ujarnya.
Di sisi lain, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menekankan bahwa kekuatan utama emiten konglomerasi terletak pada diversifikasi usaha.
Menurutnya, struktur ekosistem bisnis yang luas memungkinkan perusahaan untuk menyeimbangkan lini bisnis yang sedang lesu dengan unit usaha lain yang tumbuh lebih cepat.
“Konglomerasi selalu memiliki diversifikasi bisnis yang menarik dan sudah tercipta ekosistem yang kuat. Apabila ada salah satu lini bisnis yang mengalami penurunan, sektor lain akan mampu menopang,” lanjutnya.
Nico secara khusus masih menjagokan Grup Astra karena kemampuan manajemen dalam melakukan reposisi strategis untuk menjaga nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.
Ia pun merekomendasikan beberapa saham pilihan seperti ASII dengan target harga Rp 6.580, INDF di angka Rp 8.420, serta BBCA pada level Rp 8.130 per saham.
Meskipun demikian, para analis mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai risiko pelemahan daya beli masyarakat serta volatilitas harga komoditas yang masih membayangi pasar.
Liza menambahkan bahwa BBCA tetap menjadi pilihan defensif paling solid karena kualitas aset dan basis dana murah yang terjaga dengan baik.
“Kualitas aset, basis CASA, dan kemampuan menjaga profitabilitasnya tetap menjadikan BBCA pilihan defensif berkualitas,” tuturnya.
Investor disarankan untuk tetap mencermati fundamental masing-masing emiten, terutama bagi perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan laba tinggi akibat basis pembanding yang rendah.


