Newcastle, Gonesia.com – Matthias Jaissle kini mencuat sebagai kandidat utama suksesor Eddie Howe di kursi manajer Newcastle United setelah klub tersebut resmi mengumumkan perpisahan dengan pelatih asal Inggris itu pada Minggu, 2 Agustus 2026.
Transformasi strategis di tubuh The Magpies dipicu oleh mundurnya Howe secara mengejutkan menyusul performa klub yang hanya mampu finis di posisi ke-12 pada klasemen akhir Liga Inggris musim 2026/2027.
Manajemen klub saat ini dilaporkan telah memasuki tahap negosiasi lanjutan dengan pelatih berusia 38 tahun tersebut untuk segera mengisi kekosongan jabatan di St. James’ Park.
Profil Jaissle yang dinamis di Eropa dan Timur Tengah dianggap sebagai aset berharga untuk membawa Newcastle kembali ke papan atas persaingan domestik.
Kepergian Howe menandai berakhirnya era krusial yang telah berlangsung selama hampir lima tahun di Newcastle United.
Meski menutup musim dengan hasil kurang memuaskan, Howe meninggalkan warisan signifikan berupa dua kali keberhasilan klub menembus Liga Champions pada musim 2022/2023 dan 2024/2025.
Pencapaian tertingginya terjadi saat ia sukses mempersembahkan trofi Piala Liga Inggris 2024/2025 yang mengakhiri puasa gelar domestik klub selama tujuh dekade.
“Kami dapat mengumumkan bahwa Eddie Howe telah menyampaikan kepada klub keputusannya untuk mengundurkan diri sebagai pelatih kepala. Klub menerima keputusan tersebut dan ingin menyampaikan terima kasih kepada Eddie atas kontribusinya yang luar biasa,” tulis pernyataan resmi Newcastle United sebagaimana dikutip dari JawaPos.
Pihak klub juga mengakui peran krusial Howe dalam membangun fondasi modern bagi tim sejak bergabung pada November 2021.
“Eddie bergabung dengan St. James’ Park pada momen yang sangat penting pada November 2021 dan memainkan peran utama dalam mengubah arah perjalanan klub. Selama masa kepemimpinannya, Eddie juga menghadirkan sejumlah momen paling berkesan dalam sejarah terbaru klub,” lanjut pernyataan tersebut.
Selain Jaissle, manajemen The Magpies sempat mempertimbangkan beberapa nama besar seperti Kieran McKenna dan Antonio Conte sebagai opsi alternatif.
Namun, rekam jejak Jaissle yang mengesankan selama menangani RB Salzburg dan Al Ahli menjadikannya prioritas utama bagi manajemen.
Lahir di Nurtingen pada 5 April 1988, Jaissle memulai karier kepelatihannya di akademi RB Leipzig sebelum akhirnya meniti sukses di Austria bersama FC Liefering dan RB Salzburg.
Selama di Salzburg, ia berhasil mempertahankan gelar Liga Austria dan mengembangkan talenta muda berbakat seperti Karim Adeyemi serta Benjamin Sesko.
Kariernya berlanjut ke Arab Saudi bersama Al Ahli, di mana ia mencatatkan statistik impresif dengan 90 kemenangan dari 138 laga serta meraih tiga gelar juara.
Fleksibilitas taktik menjadi keunggulan utama yang ditawarkan oleh pelatih kelahiran Jerman tersebut bagi masa depan Newcastle.
Ia dikenal mahir mengadaptasi filosofi sepak bola Red Bull yang agresif dengan penyesuaian formasi yang modern.
Gaya permainan yang ia terapkan, terutama transisi dari formasi 4-2-3-1 ke struktur 3-2-5 atau 2-3-5 saat menyerang, dinilai sangat kompatibel dengan tuntutan kompetitif Liga Inggris.
Pendekatan taktis tersebut diyakini mampu memberikan dimensi baru bagi permainan Newcastle United dalam menghadapi tantangan musim mendatang.


