Jakarta, Gonesia.com – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kini justru memicu tekanan jual pada komoditas emas dunia hingga berpotensi mencatatkan pelemahan mingguan.
Sentimen negatif terhadap logam mulia ini muncul akibat lonjakan harga minyak mentah yang dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan harga energi global tersebut memicu kekhawatiran baru terkait kembali melambungnya laju inflasi di berbagai negara maju.
Data dari Reuters menunjukkan harga emas spot terperosok 0,5 persen ke posisi US$ 4.101,70 per ons troi pada perdagangan Jumat (10/7/2026).
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga mengalami koreksi sebesar 0,7 persen ke level US$ 4.110,60 per ons troi.
Situasi ini diperburuk oleh penilaian Badan Energi Internasional yang menyatakan eskalasi konflik berisiko menggagalkan proyeksi surplus pasokan minyak dunia tahun depan.
Kenaikan harga minyak yang tajam memaksa pelaku pasar mengalihkan fokus dari aset lindung nilai emas menuju antisipasi kebijakan moneter yang lebih agresif.
Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kini diprediksi akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk meredam potensi inflasi energi.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyatakan pasar kini lebih mengkhawatirkan risiko inflasi dibandingkan mencari aset lindung nilai seperti emas.
“Semua indikasi menunjukkan pasar mengkhawatirkan inflasi, terutama setelah harga minyak kembali naik dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini akan membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve, tetap berhati-hati,” ujar Melek.
Ia menambahkan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September telah melonjak hingga menyentuh angka 62 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.
Ketidakpastian kebijakan ini menciptakan tekanan jual yang konsisten terhadap aset berbasis logam mulia di bursa internasional.
Risalah rapat The Fed periode Juni mengonfirmasi adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat, namun inflasi tetap menjadi prioritas utama.
Investor saat ini tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan meluncur pada pekan depan.
Publik juga menunggu kesaksian Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang diharapkan memberikan kejelasan mengenai arah suku bunga ke depan.
Kondisi di pasar fisik menunjukkan variasi permintaan yang kontras di beberapa wilayah produsen dan konsumen utama.
Di India, emas dilaporkan diperdagangkan dengan diskon yang cukup besar sepanjang pekan ini akibat melemahnya minat beli.
Sebaliknya, stabilitas permintaan justru tampak di pasar Tiongkok setelah bank sentral negara tersebut meningkatkan cadangan emas secara signifikan pada Juni lalu.
Pergerakan harga logam mulia lainnya menunjukkan tren yang tidak seragam di tengah volatilitas pasar global.
Harga perak spot tercatat turun 0,4 persen menjadi US$ 59,7338 per ons troi pada penutupan perdagangan.
Sementara itu, platinum justru mencatatkan kenaikan tipis 0,4 persen menjadi US$ 1.617,45 per ons troi.
Logam paladium menjadi pengecualian dengan mencatatkan penguatan paling signifikan sebesar 2,2 persen ke level US$ 1.274,94 per ons troi.
Analis pasar memperkirakan volatilitas ini akan terus berlanjut seiring dengan perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah.
Setiap perubahan pada kebijakan moneter Amerika Serikat akan menjadi penentu utama bagi arah pergerakan harga emas di masa mendatang.


