Atlanta, Gonesia.com – Keputusan kontroversial wasit Francois Letexier yang menganulir gol Mesir dalam laga 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Argentina kini memicu perdebatan sengit di kalangan pakar perwasitan dunia.
Mantan wasit Liga Inggris, Graham Scott, secara terbuka melayangkan kritik pedas terhadap intervensi VAR yang menggagalkan gol Mostafa Ziko pada menit ke-58 tersebut.
Ia menilai bahwa gol tersebut seharusnya tetap disahkan karena kontak antara Marwan Attia dan Lisandro Martinez merupakan bentuk duel fisik yang wajar dalam sepak bola.
“Keputusan untuk menganulir gol Timnas Mesir adalah keputusan yang keliru. Kontak yang terjadi merupakan bagian wajar dari permainan dan tidak seharusnya dianggap sebagai pelanggaran,” ujar Scott dalam analisisnya di The Athletic.
Dia menyoroti bahwa insiden tersebut berlangsung di area yang sangat jauh dari gawang Argentina, yakni sekitar 91 meter.
Menurutnya, jarak yang sangat jauh itu memberikan waktu yang cukup bagi organisasi pertahanan Argentina untuk melakukan transisi dan antisipasi.
Ia berpendapat bahwa intervensi teknologi VAR dalam situasi tersebut telah melampaui batas kewenangan yang seharusnya.
Teknologi tersebut idealnya hanya digunakan untuk mengoreksi kesalahan yang bersifat jelas dan nyata (clear and obvious error).
“VAR memang memeriksa seluruh fase serangan sebelum gol tercipta. Namun, dalam kasus ini tidak ada pelanggaran yang cukup jelas untuk membuat wasit dipanggil meninjau ulang tayangan,” tuturnya.
Dia menambahkan bahwa eskalasi standar pembatalan gol harus ditingkatkan seiring dengan jauhnya jarak antara dugaan pelanggaran dengan proses terjadinya gol.
Dalam konteks laga tersebut, ia menilai syarat krusial untuk menganulir gol tidak terpenuhi sama sekali.
Pria yang memiliki rekam jejak memimpin lebih dari 100 pertandingan di Liga Inggris ini menekankan perlunya konsistensi dalam pengambilan keputusan di lapangan.
Ia berargumen bahwa gol Mesir yang dianulir dan gol kemenangan Argentina sebenarnya memiliki legitimasi yang sama kuatnya untuk disahkan.
Terkait klaim penalti Mohamed Salah, ia mendukung keputusan wasit yang menolak pemberian penalti karena intensitas kontak yang minim.
“Sama seperti gol Mesir yang seharusnya tidak dianulir, gol kemenangan Argentina juga sudah tepat untuk tetap disahkan. Klaim penalti Mesir terhadap Mohamed Salah pun benar jika ditolak karena kontak yang terjadi tidak cukup untuk dianggap sebagai pelanggaran,” kata Scott.
Kekalahan dramatis 2-3 yang dialami Mesir dari Argentina ini pun meninggalkan catatan kelam terkait integritas pengambilan keputusan wasit di turnamen akbar tersebut.
Hingga saat ini, insiden pembatalan gol tersebut masih menjadi topik perdebatan panas di media sosial dan kalangan analis sepak bola global.
Mesir akhirnya harus angkat koper dari Piala Dunia 2026 setelah gagal mengejar ketertinggalan di sisa waktu pertandingan.
Kontroversi ini memberikan tekanan tambahan bagi penyelenggara turnamen untuk mengevaluasi penggunaan VAR ke depannya.


