Jakarta – Bank Indonesia dinilai menaikkan suku bunga acuan bukan terutama karena tekanan inflasi dalam negeri, melainkan untuk merespons pelemahan rupiah, meningkatnya kebutuhan valas, serta keluarnya dana portofolio asing dari pasar keuangan domestik. Menurut Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi, langkah itu menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar kini menjadi fokus utama kebijakan moneter.
Kusfiardi menyampaikan penilaian itu pada Selasa, 9 Juni 2026. Ia menjelaskan, kenaikan BI Rate juga tidak bisa dilepaskan dari ketidakpastian global yang makin tinggi akibat konflik geopolitik dan pergeseran modal internasional ke aset yang dianggap lebih aman.
Tak berhenti pada kenaikan suku bunga, BI juga mengerek sejumlah instrumen lain dalam bauran kebijakannya. Upaya itu mencakup peningkatan daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif biaya lindung nilai atau hedging, perluasan operasi repo, hingga intervensi yang lebih aktif di pasar valuta asing.
Menurut Kusfiardi, rangkaian langkah tersebut menunjukkan bank sentral sedang berusaha menarik kembali minat investor agar menempatkan dananya pada instrumen berdenominasi rupiah. Ia menilai BI ingin menjaga daya tarik aset domestik sekaligus menahan tekanan pada kurs.
Di sisi pelaku pasar, kebijakan ini berpotensi menguntungkan investor instrumen pendapatan tetap karena imbal hasil menjadi lebih tinggi. Stabilitas rupiah juga dapat membantu menekan risiko perusahaan yang memiliki eksposur terhadap mata uang asing.
Namun, ia mengingatkan bahwa konsekuensi kenaikan BI Rate akan mulai terasa di sektor riil. Biaya pinjaman berpotensi meningkat bagi dunia usaha maupun rumah tangga, sehingga ekspansi usaha bisa tertunda, ongkos pembiayaan investasi naik, dan konsumsi yang selama ini ditopang kredit ikut melambat.
Kelompok yang dinilai paling rentan terdampak adalah perusahaan dengan beban utang tinggi, pelaku usaha yang sangat bergantung pada pembiayaan perbankan, serta rumah tangga dengan kredit berbunga mengambang seperti KPR dan kredit konsumsi lainnya.
Dalam jangka pendek, pasar saham juga berisiko tertekan. Penyebabnya, imbal hasil instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik, sementara biaya modal perusahaan ikut naik.
Meski begitu, Kusfiardi menilai dampak negatif tersebut bisa mereda apabila BI berhasil menjaga stabilitas rupiah dan menurunkan risiko makroekonomi dalam horizon menengah. Ia juga melihat adanya perubahan pendekatan dalam kebijakan moneter nasional.
Di satu sisi, BI mengambil langkah pengetatan lewat kenaikan suku bunga. Di sisi lain, otoritas moneter tetap menjaga likuiditas perbankan melalui instrumen repo dan target pertumbuhan uang primer yang masih ekspansif.
“Ini menunjukkan BI tidak ingin mengorbankan stabilitas sistem keuangan dan penyaluran kredit hanya demi mempertahankan nilai tukar. Strateginya adalah suku bunga lebih tinggi, tetapi likuiditas tetap dijaga,” kata Kusfiardi. “Pendekatan ini bertujuan menyeimbangkan kebutuhan menjaga Rupiah dengan kebutuhan mendukung aktivitas ekonomi.”

