Yogyakarta – Proses syuting film Berbagi Suami 2.0 resmi dimulai pada 21 Mei 2026 dan akan berlangsung hingga Juli mendatang. Karya terbaru Nia Dinata ini mengambil jarak dari film pertamanya yang rilis dua dekade lalu, namun tetap membawa isu yang sama: relasi keluarga, poligami, dan dampaknya terhadap perempuan serta anak dalam kehidupan modern.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2027. Di tengah memanasnya kembali perbincangan tentang perselingkuhan dan poligami di tanah air, Berbagi Suami 2.0 hadir sebagai refleksi atas situasi sosial yang masih terus berulang.
Komnas Perempuan sebelumnya menyoroti bahwa praktik poligami kerap berawal dari perselingkuhan. Lembaga itu juga menegaskan adanya konsekuensi serius bagi perempuan, mulai dari penderitaan psikologis hingga penelantaran.
Sorotan serupa juga muncul dari kalangan psikolog pada 2026. Mereka menilai relasi keluarga yang timpang dapat memicu stres kronis, kecemasan, depresi, dan menurunkan rasa percaya diri, tidak hanya pada perempuan tetapi juga anak-anak.
Nia Dinata menegaskan bahwa film ini bukan kelanjutan langsung dari versi 2006, melainkan karya baru dengan tiga tokoh utama dan karakter keluarga yang berbeda. Menurut dia, poligami menjadi benang merah yang menyatukan cerita, sekaligus membuka ruang bagi pembacaan baru atas tekanan emosional dan ketimpangan relasi dalam keluarga.
“Dua puluh tahun lalu, Berbagi Suami berbicara tentang poligami sebagai fenomena sosial yang mulai terlihat di ruang publik. Hari ini, struktur film tetap dengan tiga karakter keluarga, detail dan kondisinya mengalami perubahan sesuai dengan zaman, tetapi persoalan tentang ketimpangan relasi, luka emosional, dan posisi perempuan dalam keluarga masih sangat relevan. Film ini berangkat bukan dari penghakiman, tetapi dari sebuah ajakan untuk merasakan dampak yang sering kali disembunyikan dan dianggap normal,” ujar Nia Dinata.
Ia juga melihat persoalan perkawinan dan keluarga kini mudah menjadi sensasi di era digital karena kerap muncul di media sosial. Di sisi lain, luka emosional dalam hubungan menurut dia sering dinormalisasi, padahal efeknya dapat berlangsung lama bagi semua pihak, termasuk anak.
Produksi film ini ditangani Kalyana Shira Films dan akan berlangsung di Yogyakarta, Solo, serta Jakarta dalam beberapa bulan ke depan. Sejumlah nama yang dulu terlibat dalam Berbagi Suami (2006) kembali bergabung, di antaranya Ipung Rachmat Syaiful sebagai penata sinematografi, Tania Soeprapto sebagai penata busana, dan Aghi Narottama sebagai penata musik.
Melissa Karim, yang turut bermain dalam film pertama dua dekade lalu, kini berperan sebagai produser. Melalui proyek ini, tim produksi berharap film tersebut dapat memicu diskusi publik soal relasi, keluarga, dan dinamika sosial yang masih nyata di masyarakat hari ini.

