NGANJUK – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Indonesia kini menjadi negara yang diandalkan untuk memasok pupuk urea ke dunia di tengah krisis yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Permintaan impor datang dari berbagai negara, mulai dari Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil.
Prabowo menyampaikan hal tersebut dalam peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5). Menurutnya, fenomena ini terjadi karena penutupan akses Selat Hormuz akibat konflik yang berlangsung sejak akhir Februari lalu, yang menghambat jalur distribusi energi dunia.
“Pupuk sangat terpengaruh karena bahan bakunya berasal dari minyak dan gas. Saat ini, Australia saja sudah meminta bantuan 500 ribu ton pupuk urea dari kita. Saya perintahkan untuk membantu semuanya tanpa harus sombong,” ujar Prabowo.
Selain pupuk, Presiden juga menyoroti meningkatnya minat mancanegara terhadap beras produksi Indonesia. Hal ini menjadi bukti pentingnya percepatan swasembada pangan yang kini tengah digenjot pemerintah agar Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat di kancah internasional.
Stok Pupuk Domestik Dipastikan Aman
Menanggapi lonjakan permintaan ekspor tersebut, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan bahwa ketahanan pupuk nasional tetap menjadi prioritas utama. Perusahaan menerapkan strategi penguatan stok penyangga (*buffer*) melalui kapasitas produksi domestik yang optimal.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa stok pupuk nasional berada di level aman untuk memenuhi kebutuhan petani. Per 23 April 2026, tercatat ketersediaan pupuk mencapai 1,19 juta ton. Produksi harian pun terus dijaga stabil di angka 25 ribu ton untuk urea dan 15 ribu ton untuk NPK.
“Sepanjang 2026, kami menargetkan produksi urea nasional mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan dalam negeri sekitar 6,3 juta ton. Surplus produksi inilah yang memberikan ruang bagi kita untuk merespons permintaan global,” jelas Rahmad.
Ia menegaskan bahwa ekspor dilakukan secara selektif dan terukur. Langkah ini hanya akan dijalankan setelah kebutuhan dalam negeri benar-benar tercukupi. “Sesuai arahan pemerintah, pasokan pupuk untuk petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama kami,” pungkasnya.

