JAKARTA – Penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri Sukuk Tabungan 016 (ST016) mencatatkan performa positif pada pekan pertama penawarannya, meski pasar keuangan domestik sedang dibayangi tekanan global dan volatilitas yang tinggi.
Pemerintah membuka masa penawaran ST016 sejak 8 Mei 2026 hingga 3 Juni 2026. Produk ini terdiri dari dua seri, yakni ST016T2 dengan tenor dua tahun yang menawarkan imbal hasil minimal 6,05%, serta ST016T4 dengan tenor empat tahun yang memberikan imbal hasil minimal 6,25%.
Berdasarkan data dari platform investasi, penjualan ST016T2 dalam satu pekan pertama telah mencapai 37,4% dari target indikatif. Sementara itu, untuk seri ST016T4, realisasi penjualannya telah menyentuh angka 37,7% dari target indikatif yang ditetapkan pemerintah.
Instrumen berbasis syariah ini menggunakan skema kupon *floating with floor*. Artinya, imbal hasil dapat meningkat seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), namun tetap terjaga di batas minimal jika suku bunga acuan turun.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai capaian tersebut masih sesuai dengan ekspektasi pemerintah di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian pasar global. Menurutnya, minat investor terhadap ST016 tetap positif, meski pola pembelian saat ini cenderung lebih berhati-hati.
Investor saat ini dinilai masih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga dan stabilitas rupiah sebelum memutuskan untuk menambah alokasi investasi. Meski begitu, daya tarik ST016 tetap tinggi berkat jaminan pemerintah, risiko rendah, dan kemudahan akses pembelian secara digital.
Di tengah tekanan pada pasar saham dan pelemahan rupiah, ST016 dinilai sebagai instrumen yang lebih stabil dan aman bagi para investor ritel.
Rizal memproyeksikan permintaan terhadap ST016 berpotensi terus tumbuh, terutama saat mendekati periode penutupan masa penawaran. Ia optimistis target penjualan pemerintah dapat tercapai selama tekanan pasar global tidak semakin dalam.
Kendati demikian, investor tetap diingatkan untuk mencermati risiko instrumen ini. Sifat ST016 yang *non-tradable* membuat investor tidak dapat memperjualbelikannya di pasar sekunder, sehingga terdapat risiko keterbatasan likuiditas serta *opportunity cost*. Selain itu, investor perlu memperhatikan potensi penyesuaian imbal hasil jika suku bunga acuan mengalami penurunan di masa depan.

