Makkah – Petugas Kloter 07 Embarkasi Padang memprioritaskan pelayanan bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas sejak rombongan tiba di Makkah Al-Mukarramah. Sebanyak 24 jemaah pengguna kursi roda pun langsung difasilitasi menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah wajib pada Ahad (10/5).
Pembimbing Ibadah Kloter PDG 07, Irfan Junaidi, mengatakan rombongan datang dari Madinah pada dini hari dan sempat beristirahat sebelum jemaah yang sehat diberangkatkan lebih dulu. Adapun jemaah lansia dan disabilitas mendapat layanan khusus pada sore hari.
“Untuk jemaah lansia dan disabilitas, sore harinya kami antar secara khusus menggunakan kursi roda menuju Masjidil Haram,” ujar Irfan, Senin (11/5).
Pelayanan tersebut dimulai dari Hotel Al-Hidayah Tower Aziziyah menuju terminal Jabal Qabah. Dari sana, para jemaah didorong oleh tenaga pendorong resmi yang disiapkan Pemerintah Arab Saudi.
Irfan menegaskan penggunaan petugas resmi menjadi bagian penting demi menjamin keamanan dan kenyamanan jemaah selama beribadah di kawasan Masjidil Haram. “Kami pastikan seluruh tenaga pendorong berasal dari petugas resmi Arab Saudi. Ini penting untuk menjamin keamanan dan keselamatan jemaah haji Indonesia,” katanya.
Fokus pendampingan terhadap lansia dan jemaah disabilitas memang menjadi perhatian utama Kloter PDG 07. Pasalnya, kelompok terbang ini dihuni banyak jemaah kategori lanjut usia dan berisiko tinggi.
Berdasarkan data kloter, PDG 07 merupakan gabungan jemaah asal Bukittinggi dan Pariaman dengan total 391 orang. Rinciannya terdiri atas 384 jemaah dan tujuh petugas pendamping.
Rombongan ini berangkat dari Madinah menuju Makkah pada Sabtu (9/5/2026) pukul 17.00 waktu Arab Saudi dan tiba sekitar pukul 01.00 dini hari pada Minggu.
Ketua Kloter PDG 07, Misra Elfi, menyebut 181 jemaah di antaranya berusia di atas 60 tahun. Selain itu, ada 28 jemaah yang menggunakan alat bantu, terdiri dari 24 pengguna kursi roda dan lima pengguna tongkat.
“Karena dominasi jemaah lansia cukup tinggi, pelayanan dan pengawasan kesehatan terus kami perketat,” ujar Misra.
Catatan kesehatan kloter juga menunjukkan mayoritas jemaah memiliki penyakit penyerta, mulai dari hipertensi, diabetes melitus, obesitas, hingga gangguan jantung. Sebanyak 94 jemaah bahkan masuk kategori risiko tinggi berat.
Selain mengawal ibadah, petugas juga terus memantau kondisi kesehatan seluruh jemaah. Hingga setibanya di Makkah, satu jemaah atas nama Yusmanidar Idris masih menjalani perawatan.
Sementara itu, satu jemaah asal Bukittinggi bernama Yunilis Muin sebelumnya dilaporkan wafat di Madinah pada 2 Mei 2026 dan telah dimakamkan di pemakaman Baqi.
Petugas kloter mengimbau jemaah menjaga stamina, mengatur ritme ibadah, serta tidak memaksakan diri di tengah cuaca panas ekstrem di Arab Saudi menjelang puncak ibadah haji.

