BADUNG – Industri fesyen dan kriya nasional mencatatkan kinerja impresif dengan kontribusi nilai tambah ekonomi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp 120,13 triliun pada triwulan I 2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 7,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan capaian ini saat meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (8/5/2026). Ia menegaskan bahwa sektor ini menjadi pilar strategis dalam menopang perekonomian nasional.
Pertumbuhan industri fesyen dan kriya terus menunjukkan tren positif. Setelah mencatat pertumbuhan 4,93 persen pada 2025, sektor ini kini menarik minat investasi yang signifikan. Pada triwulan pertama 2026, total investasi yang masuk menembus angka Rp 14,21 triliun, yang terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 4,83 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) senilai Rp 9,38 triliun.
Kinerja ekspor pun menunjukkan daya saing yang kuat di pasar global. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, nilai ekspor pakaian jadi mencapai US$ 1,44 miliar, industri tekstil sebesar US$ 0,52 miliar, dan industri kriya menyumbang US$ 2,43 miliar.
Sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) memegang peranan vital dalam pencapaian tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan terdapat 1,75 juta unit usaha IKM fesyen dan kriya yang mampu menyerap sekitar 3,69 juta tenaga kerja. Kekuatan ekosistem ini ditopang oleh 1.825 sentra IKM fesyen dan 3.496 sentra IKM kriya yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pemilihan Bali sebagai lokasi BPIFK bukan tanpa alasan. Pulau Dewata dinilai memiliki ekosistem industri kreatif yang sangat kuat dengan keberadaan 25 sentra IKM fesyen dan 197 sentra IKM kriya, yang menjadikannya salah satu pusat industri kreatif terbesar di Tanah Air.
BPIFK sendiri merupakan satuan kerja di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian. Lembaga ini merupakan evolusi dari program Bali Creative Industry Center (BCIC) yang telah dirintis sejak 2015 untuk memperkuat pemberdayaan industri kreatif nasional.

