JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (*year-on-year*), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa tiga komponen utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut adalah konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan konsumsi pemerintah.
Konsumsi pemerintah mencatatkan pertumbuhan tertinggi secara tahunan, yakni sebesar 21,81 persen. Lonjakan ini dipicu oleh realisasi pembayaran gaji ke-14 serta tingginya belanja barang dan jasa, terutama yang terkait dengan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski tumbuh pesat, kontribusi konsumsi pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) periode Januari–Maret 2026 tercatat sebesar 6,72 persen.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyumbang utama atau penopang terbesar ekonomi nasional. Komponen ini tumbuh 5,52 persen dengan kontribusi mencapai 54,36 persen terhadap PDB.
Amalia menjelaskan bahwa secara nilai PDB, konsumsi rumah tangga dan investasi (PMTB) masih mendominasi dibandingkan konsumsi pemerintah. “Proporsi atau *share*-nya memang paling besar dari sisi nilai PDB, baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan,” ujar Amalia dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Selain konsumsi rumah tangga, PMTB memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB sebesar 28,29 persen, disusul oleh ekspor sebesar 21,22 persen.
Adapun dari sisi produksi, lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDB adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi. Sektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 1,03 persen, yang didorong oleh kuatnya permintaan domestik maupun internasional.
Secara spesifik, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 7,04 persen, dipicu oleh lonjakan permintaan selama periode Ramadan dan Idul Fitri.
Sepanjang kuartal pertama 2026, total PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat sebesar Rp3.447,7 triliun.

