JAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, memproyeksikan sektor ekonomi kreatif (ekraf) mampu memberikan kontribusi signifikan sebesar 6,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tahun ini. Capaian tersebut diharapkan dapat menyamai atau bahkan melampaui performa positif pada tahun sebelumnya.
Riefky menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih menanti data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pertumbuhan ekonomi kreatif yang dijadwalkan rilis pada Juni mendatang. Ia optimis angka tersebut akan tetap kuat, mengingat pada 2024 lalu, sektor ini berhasil tumbuh 1,5 persen di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Keyakinan tersebut didasari oleh catatan performa gemilang sepanjang tahun 2025 yang melampaui seluruh target yang ditetapkan pemerintah:
Pertama, sektor ekspor ekonomi kreatif sukses menembus angka di atas 120 persen dari target US$ 26,4 miliar.
Kedua, realisasi investasi di sektor ini mencapai Rp 180 triliun, angka tersebut jauh melampaui target yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp 134 triliun atau setara 130 persen.
Ketiga, penyerapan tenaga kerja di bidang ekonomi kreatif juga mencatatkan hasil impresif dengan menyerap 27,4 juta orang, melampaui target awal sebesar 25,5 juta pekerja pada 2025.
Berdasarkan data BPS, perekonomian Indonesia sendiri menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada periode Januari hingga Maret 2026. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 tercatat berada di level 4,87 persen.
Untuk kuartal pertama 2026, BPS mencatat besaran PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 6.187,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat sebesar Rp 3.447,7 triliun. Pemerintah berharap penguatan di sektor ekonomi kreatif terus menjadi katalis utama dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

