Jakarta, Gonesia.com – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) secara agresif memangkas jumlah entitas bisnisnya hingga 34 perusahaan sebagai bagian dari upaya perampingan struktur grup usaha yang ditargetkan tuntas sepenuhnya pada tahun 2027 mendatang.
Langkah strategis ini dilakukan untuk mempercepat transisi perusahaan menuju model strategic holding organization yang lebih ramping dan efisien.
Hingga Jumat (7/8), emiten telekomunikasi pelat merah ini tercatat masih mengelola 67 entitas yang terdiri dari 58 anak perusahaan serta 9 investasi minoritas.
Upaya transformasi tersebut mendapatkan perhatian serius dari pemerintah melalui pembahasan intensif antara manajemen Telkom dengan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, pada Kamis (6/8) kemarin.
Pertemuan tersebut menekankan pentingnya akselerasi program perampingan serta penguatan leadership pipeline untuk meningkatkan sinergi bisnis jangka panjang.
“Yang paling penting, perusahaan bisa bergerak lebih cepat, lebih efisien, dan menciptakan nilai yang lebih besar,” ujar Dony, mengutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.
Dia menambahkan bahwa proses restrukturisasi ini diproyeksikan mampu mendongkrak daya saing Telkom di kancah global sebagai perusahaan digital nasional yang adaptif.
Penyederhanaan struktur organisasi diyakini menjadi kunci utama dalam mempercepat pengambilan keputusan strategis di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat.
VP Corporate Communication Telkom, Andri Herawan Sasoko, menegaskan bahwa seluruh tahapan perampingan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian yang ketat.
“Seluruh proses tersebut dilaksanakan berdasarkan evaluasi strategis terhadap portofolio bisnis serta dijalankan secara prudent, akuntabel, dan transparan dengan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Business Judgment Rule (BJR),” ucap Andri.
Sejalan dengan agenda transformasi tersebut, Telkom mencatatkan realisasi belanja modal sebesar Rp 10,8 triliun sepanjang semester I 2026.
Dana tersebut difokuskan untuk memperkuat infrastruktur digital serta mendukung pemanfaatan tambahan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang baru saja diperoleh Telkomsel.
Kinerja keuangan perusahaan selama enam bulan pertama tahun 2026 pun menunjukkan tren positif di tengah proses perampingan organisasi.
Pendapatan konsolidasi tercatat mencapai Rp 75,9 triliun atau tumbuh 3,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Laba bersih perseroan juga mengalami kenaikan 1,4% menjadi Rp 10,6 triliun, sementara laba bersih yang dinormalisasi tumbuh lebih impresif sebesar 6,2% menjadi Rp 11,3 triliun.
Kekuatan likuiditas perusahaan tetap terjaga dengan posisi kas dan setara kas mencapai Rp 54,6 triliun per akhir Juni 2026.
Arus kas operasional yang mencapai Rp 34,9 triliun memberikan ruang fiskal yang cukup bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi jaringan di masa depan.
Transformasi ini menjadi bukti keseriusan Telkom dalam menata ulang portofolio bisnisnya agar lebih fokus pada sektor inti telekomunikasi dan digital.


