Jakarta, Gonesia.com — Indeks sektor properti dan real estat di Bursa Efek Indonesia mencatatkan kinerja yang tertekan sepanjang tahun 2026 dengan penurunan mencapai 29,65% secara year to date (YTD).
Performa negatif ini melampaui koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat turun 24,62% pada periode yang sama.
Tekanan berat pada emiten properti dipicu oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menyatakan bahwa sektor properti menghadapi tantangan ganda akibat kondisi pasar saham yang sedang risk-off dan kebijakan suku bunga yang tetap tinggi.
Ia menjelaskan bahwa meski keputusan BI pada rapat Agustus 2026 adalah menahan suku bunga, level tersebut tetap 100 basis poin lebih tinggi dibandingkan awal tahun.
“Jadi walaupun keputusan Agustus adalah menahan suku bunga, level suku bunganya tetap 100 basis poin (bps) lebih tinggi dibandingkan awal tahun,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).
Faktor ketiga yang memperburuk situasi adalah normalisasi valuasi pada saham berkapitalisasi besar dan high-beta seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK).
Harga saham PANI tercatat anjlok lebih dari 50% hingga akhir Agustus 2026, sementara CBDK mengalami koreksi sebesar 56,57% secara YTD.
Ester menilai bahwa pelaku pasar saat ini tidak hanya memperhatikan keputusan jangka pendek, melainkan sudah memproyeksikan arah kebijakan suku bunga di masa depan.
Menurut dia, menahan suku bunga di level tinggi saat ini belum menjadi stimulus baru bagi industri properti nasional.
Pasar membutuhkan keyakinan bahwa siklus kenaikan suku bunga telah berakhir agar bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat ikut melandai.
Kebutuhan akan penurunan suku bunga menjadi sangat krusial mengingat 70,05% pembelian rumah primer saat ini masih bergantung pada fasilitas KPR.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menambahkan bahwa sentimen negatif juga diperburuk oleh ketidakpastian ekonomi global.
Ia mencatat bahwa permintaan properti yang belum pulih secara signifikan turut menekan pendapatan prapenjualan atau marketing sales para pengembang.
Di sisi lain, potensi pemulihan pada semester II 2026 dinilai masih ada namun akan berjalan secara selektif bagi emiten tertentu.
Insentif PPN DTP 100% untuk hunian hingga harga Rp 5 miliar serta kebijakan loan to value hingga 100% diprediksi mampu menopang daya beli konsumen.
Beberapa emiten seperti PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dipandang lebih defensif karena memiliki pendapatan berulang dari mal dan hotel yang stabil.
Sementara itu, perusahaan seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tetap solid dalam target marketing sales meskipun terjadi fluktuasi pada laba bersih.
Kevin merekomendasikan investor untuk mencermati saham BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga yang disesuaikan dengan kondisi pasar terkini.
Ia menegaskan bahwa pemulihan sektor properti akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan perbaikan indikator ekonomi global.


