JAKARTA – Bank Indonesia (BI) telah memaparkan cetak biru ekonomi nasional melalui lima resep strategis yang dirancang untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan lebih tinggi hingga 2026. Strategi ini menjadi respons atas ketidakpastian global yang terus membayangi perekonomian dunia.
Pemaparan komprehensif ini disampaikan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, yang merumuskan langkah-langkah konkret untuk memperkuat fondasi ekonomi dan mempercepat transformasi nasional.
Gubernur BI Perry Warjiyo, pada Kamis (4/12/2025), menegaskan bahwa perekonomian Indonesia telah menunjukkan resiliensi signifikan sepanjang 2025, meskipun tekanan global terus meningkat, mulai dari tarif Amerika Serikat hingga perlambatan ekonomi dunia. Sinergi antarpihak disebut sebagai kunci utama agar Indonesia tetap bergerak adaptif di tengah dinamika ekonomi global yang cepat berubah.
Resep pertama menyoroti pentingnya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan sebagai prasyarat utama. Pengendalian harga, stabilitas nilai tukar rupiah, dan penguatan ketahanan perbankan menjadi fokus, didukung sinergi kebijakan fiskal dan moneter. “Stabilitas yang dinamis. Harga-harga terkendali, rupiah stabil, ekonomi bergerak cepat, dan rakyat mendapat manfaat. Itulah ‘Sumitronomcis’,” ujar Perry.
Transformasi sektor riil menjadi resep kedua, bertujuan meningkatkan modal, tenaga kerja, dan produktivitas nasional. Kebijakan industrial akan diarahkan pada hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam (SDA), dilengkapi dengan reformasi struktural untuk memperbaiki iklim investasi, birokrasi, konektivitas, serta perdagangan.
Guna mendukung transformasi sektor riil yang membutuhkan modal besar, resep ketiga menekankan perluasan pembiayaan ekonomi dan pasar keuangan. Pendanaan hilirisasi dan industrialisasi SDA tidak hanya mengandalkan APBN, tetapi juga perbankan, lembaga keuangan, serta investor domestik dan asing.
Resep keempat mendorong percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan. Inisiatif seperti QRIS, mobile banking, e-commerce, dan BI-FAST akan terus mempermudah aktivitas masyarakat dan transaksi pemerintah.
Terakhir, resep kelima berfokus pada penguatan kerja sama investasi dan perdagangan di tengah gelombang proteksionisme global. Kerja sama bilateral dan regional akan diintegrasikan dengan agenda hilirisasi dan kebutuhan pembiayaan nasional, termasuk perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transactions/LCT) dan sistem pembayaran digital antarnegara.
Kelima resep ini dirancang saling terkait, diyakini mampu mendorong ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi sekaligus lebih tangguh terhadap guncangan eksternal. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dipatok di kisaran 4,7-5,5 persen pada 2025, meningkat menjadi 4,9-5,7 persen pada 2026, dan 5,1-5,9 persen pada 2027. Bauran kebijakan akan menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, dengan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran pada 2026 diarahkan lebih kuat untuk mendorong ekspansi ekonomi.

