PAREPARE – Legenda PSM Makassar, Yosef Wijaya, mengecam keras aksi kerusuhan suporter yang terjadi usai laga PSM Makassar melawan Persib Bandung pada pekan ke-33 Super League 2025/2026 di Stadion BJ Habibie, Parepare, Minggu (17/5/2026). Ia menilai tindakan anarkis tersebut sangat tidak sportif dan merugikan klub.
Pasca peluit panjang dibunyikan, oknum suporter merangsek masuk ke lapangan, menyalakan flare, petasan, hingga smoke bomb. Tak hanya merusak fasilitas stadion, oknum tersebut bahkan sempat menendang pemain sekaligus asisten pelatih Persib, Ahmad Jufriyanto.
Akibat insiden ini, PSM Makassar kini terancam sanksi berat dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI, mulai dari denda sebesar Rp340 juta hingga larangan menggelar pertandingan dengan penonton.
Yosef mengaku heran dengan aksi tersebut, mengingat hasil pertandingan tidak lagi berpengaruh bagi posisi PSM di klasemen karena tim berjuluk Juku Eja itu telah dipastikan aman dari zona degradasi.
“Apa motivasinya membuat kerusuhan? Padahal, kalah pun tidak berpengaruh bagi PSM. Ini sangat tidak sportif. Jika klub disanksi, yang rugi adalah manajemen, bukan oknum suporter itu sendiri,” ujar Yosef saat dikonfirmasi, Selasa (19/5/2026).
Mantan kapten PSM ini menilai kerusuhan suporter yang terus berulang terjadi karena lemahnya penegakan hukum. Menurutnya, selama ini sanksi hanya menyasar pihak manajemen, sementara oknum suporter tidak pernah ditangkap maupun diberi sanksi tegas, sehingga tidak ada efek jera.
Ia mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas insiden tersebut. Jika terbukti melanggar hukum, oknum yang terlibat harus diproses secara pidana. Yosef mengaku malu atas perilaku tersebut dan menyoroti organisasi suporter yang dinilainya justru semakin tidak teratur meski komunitas semakin banyak.
Selain menyoroti perilaku suporter, Yosef juga mengkritik kinerja Panitia Pelaksana (Panpel) dan petugas keamanan (steward). Ia menyoroti laporan terkait adanya pembiaran flare masuk ke stadion, yang jelas-jelas melanggar regulasi Super League 2025/2026.
“Katanya Panpel mengizinkan flare masuk, ini harus dievaluasi secara menyeluruh. Selain itu, kinerja steward juga dipertanyakan karena barang terlarang bisa lolos dan suporter dengan mudah masuk ke area lapangan,” tegas pemain yang membawa PSM juara Perserikatan musim 1991/1992 tersebut.

