JAKARTA – HSBC Tiongkok resmi meluncurkan fasilitas kredit senilai US$ 4 miliar untuk mendukung ekspansi perusahaan energi bersih dan rendah karbon asal Tiongkok ke pasar internasional, dengan Indonesia menjadi salah satu target utama investasi.
Langkah strategis melalui *Sustainability and Transition Credit Facility* ini bertujuan mempercepat transisi energi di kawasan ASEAN. Fasilitas ini menyasar berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan dan kendaraan listrik, hingga pengembangan pusat data serta kecerdasan buatan (*Artificial Intelligence*).
Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi investasi energi bersih terbesar di Asia Tenggara. Menurutnya, pembiayaan ini merupakan dukungan konkret untuk memenuhi kebutuhan pendanaan iklim Indonesia yang diproyeksikan mencapai US$ 97 miliar demi mengejar target 2030 sesuai dengan *Comprehensive Investment and Policy Plan* (CIPP) dari *Just Energy Transition Partnership* (JETP).
“HSBC berada pada posisi strategis untuk menghubungkan ambisi Indonesia dengan perusahaan energi bersih kelas dunia asal Tiongkok. Mereka memiliki teknologi, pengalaman, dan kapasitas yang dibutuhkan untuk mewujudkan transisi energi tersebut,” ujar Stuart dalam keterangan resmi, Kamis (28/5/2026).
Data HSBC mencatat, Tiongkok saat ini mendominasi 47 persen ekspor teknologi bersih (*cleantech*) dunia, termasuk dua pertiga ekspor panel surya dan baterai global. Ekspansi ini semakin dipermudah dengan adanya protokol *ASEAN-China Free Trade Area* (ACFTA) 3.0 yang mencakup kerja sama ekonomi hijau dan digital.
Di sisi lain, Indonesia diuntungkan dari penurunan biaya energi bersih. Data menunjukkan 91 persen proyek tenaga angin dan surya baru yang beroperasi pada 2024 terbukti lebih murah dibandingkan harga bahan bakar fosil termurah di dunia.
Melalui fasilitas kredit baru ini, HSBC akan memberikan kemudahan bagi perusahaan yang memenuhi syarat, meliputi perluasan limit kredit, penyederhanaan proses persetujuan, hingga solusi keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat penyediaan teknologi bersih dan kontribusi dekarbonisasi secara global.

