IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi Teknologi

GOTO Menguat, Investor Cermati Valuasi dan Buyback

Saham GOTO naik 7,14%, investor mulai cermati valuasi dan buyback

Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali bergerak naik setelah sempat tertekan tajam usai Bursa Efek Indonesia mengubah ketentuan batas bawah harga saham. Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10), saham emiten teknologi itu menguat 7,14% dan bertengger di level Rp 30 per saham.

Pemulihan ini terjadi pada hari keempat sejak BEI meniadakan floor price Rp 50 per saham dan menurunkannya menjadi Rp 1 per saham. Meski begitu, saham GOTO masih tercatat terkoreksi sekitar 40% dalam sepekan terakhir.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan GOTO, R.A. Koesoemohadiani, menilai perubahan mekanisme perdagangan memberi ruang bagi pemegang saham yang sebelumnya mengantre untuk menjual sahamnya agar dapat menyesuaikan portofolio. Ia menegaskan, penurunan harga saham saat ini tidak sejalan dengan kinerja bisnis perseroan.

“Manajemen GOTO meyakini bahwa harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menerus menguat,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Kamis (1/10/2026).

Diani, sapaan akrabnya, mengatakan pergerakan harga saham GOTO lebih dipengaruhi faktor teknis ketimbang kondisi fundamental. Di sisi lain, ia menyebut kinerja usaha perusahaan masih menunjukkan tren positif.

Fitch Naikkan Profil Kredit TLKM, Rating Tertahan oleh RI

Pada kuartal II-2026, GOTO membukukan laba bersih Rp 252 miliar. Capaian itu sekaligus menandai laba bersih dua kuartal berturut-turut. Dalam periode yang sama, pendapatan bersih perusahaan mencapai Rp 5,7 triliun dan EBITDA yang disesuaikan berada di level Rp 1 triliun.

“Manajemen GOTO tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang manajemen GOTO yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” kata Diani.

Selain membenahi kinerja operasional, GOTO juga memiliki agenda pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan telah mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 18 Juni 2026 untuk menjalankan buyback senilai Rp 3,5 triliun selama periode 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027.

Namun, pelaksanaannya tidak otomatis berjalan penuh. Diani menyebut keputusan eksekusi buyback tetap akan bergantung pada pertimbangan manajemen, termasuk kondisi pasar dan kemungkinan dampak perubahan regulasi.

GOTO juga bersiap meminta restu RUPSLB pada 14 Oktober 2026 untuk menghapus saham treasuri hasil pembelian kembali sebanyak 32,18 miliar saham. Saham treasuri tersebut berasal dari program buyback yang dilakukan pada 12 Juni 2024 hingga 11 Juni 2025.

Reksadana Tertekan Sepanjang 2026, Peluang Pulih di Kuartal IV

“Untuk saham treasuri GOTO tersebut diperoleh melalui pembelian kembali dari pemegang saham pada program pembelian kembali saham GOTO sejak tanggal 12 Juni 2024-11 Juni 2025,” ujar Diani.

Dari sisi pasar, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta menilai tekanan pada saham GOTO perlu dilihat bersamaan dengan perbaikan kinerja perusahaan. Menurut dia, GOTO sudah mencatatkan laba bersih selama dua kuartal beruntun.

“Pada harga saat ini, saham GOTO sudah diperdagangkan di bawah satu kali nilai buku atau price-to-book value, padahal perusahaan sudah untung. Ini menunjukkan valuasi saham sudah rendah dibandingkan nilai buku perusahaan,” katanya, Jumat (2/10).

Kafi juga menyoroti besarnya nilai transaksi GOTO di tengah tekanan harga. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan pasar tetap aktif pada level saat ini, meski belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren saham sudah berbalik arah.

Pada perdagangan Jumat (2/10), nilai transaksi saham GOTO tercatat Rp 2,68 triliun dengan volume 97,54 miliar saham. Sepanjang sesi, saham ini bergerak di rentang Rp 26 sampai Rp 28 per saham.

Sarmuji Pemetakan Masalah Manufaktur Usai Gantikan Agus Gumiwang

Rencana buyback senilai Rp 3,5 triliun juga ikut menjadi perhatian. Kafi menilai level harga saham saat ini bisa menjadi salah satu pertimbangan manajemen untuk menjalankan aksi pembelian kembali saham tersebut.

“Harga yang sudah terdiskon seperti sekarang menjadi waktu yang baik untuk mempertimbangkan pembelian kembali saham. Pelaksanaannya dapat menjadi sinyal keyakinan manajemen terhadap nilai perusahaan sekaligus mendukung kepercayaan investor,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan Senior Equity Research Analyst Phillip Sekuritas Indonesia, Edo Ardiansyah. Ia menyebut bisnis GOTO masih tumbuh dari sisi pendapatan dan profitabilitasnya terus membaik.

Menurut Edo, konsensus menempatkan harga wajar saham GOTO pada kisaran Rp 65 hingga Rp 74 per saham. Jaraknya cukup lebar dibandingkan harga pasar saat ini.

“Selisihnya memang lebar. Namun, potensi kenaikan itu baru akan lebih mudah terealisasi ketika tekanan jual mereda dan investor kembali menilai GoTo berdasarkan kinerja bisnisnya,” ucapnya.

Edo menambahkan, perbaikan fundamental akan menjadi faktor penting ketika tekanan terhadap saham mulai mereda. Di sisi lain, rencana buyback memberi ruang bagi perusahaan untuk menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang berkembang.

Komentar