Jakarta – Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dan Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK), kembali turun ke jalan pada Kamis, 4 September 2025. Mereka menggelar unjuk rasa serentak di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, menyuarakan sejumlah tuntutan krusial kepada pemerintah dan parlemen.
Kepala Seksi Humas Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, Inspektur Satu Ruslan Basuki, membenarkan rencana aksi tersebut di dua lokasi. Untuk mengamankan jalannya demonstrasi, kepolisian menerjunkan 2.143 personel gabungan. “Kami mengimbau agar proses penyampaian pendapat dapat dilakukan secara tertib,” ujar Ruslan.
Koordinator Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK), Unang Sunarno, sebelumnya menyatakan sekitar 1.000 buruh, mahasiswa, dan masyarakat sipil akan memadati kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya. Mereka membawa lima poin tuntutan prioritas.
Tuntutan tersebut antara lain mendesak aparat menghentikan tindakan represif terhadap demonstran, membebaskan demonstran yang ditahan, menurunkan nilai tarif pajak rakyat, menurunkan harga sembako yang melambung tinggi, serta mendorong DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset.
Unang menegaskan, kelima tuntutan tersebut harus segera ditindaklanjuti oleh Presiden Prabowo Subianto dan DPR sebagai bentuk komitmen pro rakyat. “Pemerintah harus menyatakan komitmen selalu mendengar aspirasi rakyat dengan mewujudkan segera tuntutan tersebut,” kata Ketua Umum Konfederasi Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) itu.
Sementara itu, aliansi mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) memfokuskan tuntutan mereka di depan Gedung DPR. Mereka menuntut DPR dan pemerintah mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset, menghentikan pembebanan pajak pada rakyat kecil, mengevaluasi anggaran DPR, mengaudit Badan Usaha Milik Negara (BUMN), merevolusi Kabinet Merah Putih, serta mendesak kepolisian membebaskan demonstran yang ditahan.
Unjuk rasa BEM SI ini merupakan kelanjutan dari aksi yang sempat dibatalkan pada Selasa, 2 September 2025, karena situasi dinilai belum kondusif. Gelombang demonstrasi massa ini telah berlangsung sejak Senin, 25 Agustus 2025.
Rangkaian unjuk rasa beberapa hari berturut-turut tersebut berujung ricuh, bahkan menewaskan pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan, yang terlindas kendaraan taktis Brigade Mobil Polri pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
Insiden tragis tersebut memicu kemarahan massa dan berlanjut dengan aksi perusakan serta pembakaran markas kepolisian di Jakarta dan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di berbagai wilayah. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mencatat, total 10 orang tewas dan lebih dari tiga ribu orang luka-luka selama gelombang demonstrasi. Kepolisian juga dilaporkan menahan lebih dari seribu demonstran.

