Jakarta – Di tengah ekonomi yang serba tidak pasti, pengelolaan keuangan pribadi dinilai tak cukup hanya berfokus pada memilih instrumen investasi. Kemampuan menabung perlu dijaga, terutama saat pendapatan dan pengeluaran berubah.
Founder DNA Finance dan Finansial Planet, Aliyah Natasya, menyarankan masyarakat memakai strategi barbell portfolio untuk mengatur investasi. Pola ini membagi portofolio ke dalam dua sasaran: menjaga aset yang sudah ada dan mengejar pertumbuhan nilai kekayaan.
“Fundamentalnya apa? Dua tujuan investasi. Yang satu adalah mengamankan, mengamankan ini mengamankan apa? Mengamankan uang dan value yang udah teman-teman punya. Yang kedua adalah menumbuhkan,” kata Aliyah dalam acara Cerdas Literasi Keuangan Digital: Cerdas Bertransaksi, Bijak Berinvestasi oleh Katadata, Sabtu (3/10).
Dalam pendekatan tersebut, emas, reksa dana pasar uang, dan valuta asing dapat menjadi bagian dari sisi perlindungan aset. Sebaliknya, untuk dorongan pertumbuhan, investor bisa melirik instrumen berisiko lebih tinggi seperti reksa dana saham, saham, hingga kripto, asalkan memahami risiko masing-masing.
Aliyah menilai komposisi investasi tidak bisa dipukul rata karena sangat bergantung pada kondisi pasar dan tujuan tiap orang. Ia mengaku, dalam situasi ekonomi yang belum stabil, porsi portofolionya saat ini lebih banyak diarahkan ke instrumen yang menjaga aset.
Saat pasar mulai bergerak positif, porsi untuk mengejar pertumbuhan disebut bisa diperbesar. Menurut Aliyah, masa usia 20-an juga menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat literasi keuangan dan belajar mengambil risiko secara bertahap dengan nominal yang tetap terukur.
“Kalau saya punya waktu kembali ke 20-an, hal pertama mungkin yang akan saya lakukan adalah satu, beli emas,” ujarnya.
Di sisi lain, Praktisi Pasar Modal Ricky Susanto Joeng menekankan bahwa menabung sebaiknya menjadi kebiasaan yang dibangun lebih dulu sebelum memikirkan instrumen investasi. Ia menyebut pencatatan pengeluaran sebagai langkah awal agar seseorang tahu berapa dana yang benar-benar bisa disisihkan.
Ricky mengatakan dirinya pernah berada dalam situasi berpenghasilan tidak pasti. Namun, kedisiplinan mengatur pengeluaran membuatnya tetap mampu menabung dalam porsi besar.
Ia mencontohkan, seseorang dengan pengeluaran rutin Rp 1,2 juta per bulan lalu menerima pendapatan Rp 5 juta semestinya punya ruang tabungan yang lebih luas, selama gaya hidup tidak ikut melonjak.
“Income makin besar artinya saving makin besar,” kata Ricky.
Menurut dia, kenaikan pendapatan kerap diikuti kenaikan gaya hidup atau lifestyle inflation. Akibatnya, tambahan pemasukan yang seharusnya memperbesar tabungan justru habis untuk menutup pengeluaran baru.
Ricky mengaku pernah menabung sekitar 60-70 persen dari penghasilannya karena tidak langsung menaikkan belanja saat pendapatan bertambah. Kebiasaan itu, katanya, menjadi bekal penting ketika kondisi ekonomi berubah dan harga-harga naik.
“Yang udah pernah habit, yang udah pernah dibangun, tabungan-tabungan, investasi yang sebelumnya udah pernah dilakukan, itu yang membantu saya saat ini,” ujarnya.
Untuk masyarakat yang baru mulai mengelola dana, Ricky menyarankan produk seperti deposito dan reksa dana pasar uang sebagai pilihan awal yang bisa dipelajari. Emas, kata dia, juga layak dipertimbangkan sebagai bagian dari diversifikasi aset.


