JAKARTA, Gonesia.com – Rencana pemerintah dalam memangkas target penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi 63 juta jiwa dari proyeksi awal 82,9 juta jiwa dipastikan tidak akan mengguncang fundamental industri perunggasan tanah air di sisa tahun 2026.
Penyesuaian anggaran program yang kini dipatok sebesar Rp 268 triliun tersebut sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar modal terkait potensi kelebihan pasokan daging ayam ras.
Namun, para analis menilai bahwa dampak kebijakan tersebut terhadap total konsumsi nasional akan sangat terbatas.
Keseimbangan pasar justru diprediksi tetap terjaga berkat langkah pengetatan kuota impor bibit ayam atau Grand Parent Stock (GPS).
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, dalam risetnya yang dipublikasikan Kontan.co.id pada 14 Agustus 2026, menegaskan bahwa pasar unggas nasional masih berada dalam kondisi kekurangan pasokan atau undersupply hingga 12 persen sepanjang tahun ini.
Ia memberikan analisis mendalam mengenai dinamika permintaan dan penawaran tersebut.
“Kami memperkirakan pemangkasan target penerima MBG tahun 2026 menjadi 63 juta jiwa hanya memiliki dampak terbatas terhadap permintaan unggas. Jika impor GPS terealisasi lebih rendah hingga 700 ribu ekor, penurunan pasokan tersebut akan menutupi penurunan permintaan akibat pemangkasan MBG,” ujarnya.
Indikator kesehatan industri perunggasan kini tercermin dari tren pemulihan harga yang signifikan di lapangan.
Harga live bird tercatat melonjak 25 persen secara bulanan pada Agustus 2026 hingga menyentuh level Rp 25.100 per kilogram.
Harga anak ayam usia sehari atau day-old chick (DOC) juga menunjukkan tren kenaikan yang stabil.
Kondisi tersebut tercatat naik menjadi Rp 5.300 per ekor pada Juli 2026 dari posisi Rp 3.500 per ekor pada bulan sebelumnya.
Kinerja emiten unggas pun terbukti tetap tangguh di tengah berbagai tantangan kebijakan pemerintah.
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), misalnya, berhasil membukukan laba bersih semester I-2026 sebesar Rp 3,7 triliun.
Pencapaian tersebut mencatatkan lonjakan fantastis hingga 95 persen secara tahunan atau year-on-year.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margareta, menilai profitabilitas emiten akan tetap terjaga meski ada normalisasi kinerja.
“Meskipun kinerja laba kemungkinan akan kembali normal dari capaian semester pertama yang sangat kuat, kami meyakini profitabilitas akan tetap berada di atas rata-rata historis, didukung oleh lingkungan industri yang secara struktural lebih sehat,” ungkapnya.
Di sisi lain, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dinilai memiliki daya tahan luar biasa sebagai produsen besar.
Model bisnis terintegrasi yang dimiliki perusahaan menjadi kunci utama dalam menghadapi fluktuasi harga bahan baku.
Analis Sinarmas Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi, menekankan keunggulan tersebut dalam risetnya.
“Model bisnis terintegrasi menjadi keunggulan bersaing utama JPFA yang membentang di seluruh rantai nilai, memberikan ketahanan lebih besar di tengah fluktuasi biaya bahan baku pakan dan harga jual ayam,” jelasnya.
Selain itu, PT Malindo Feedmill Indonesia Tbk (MAIN) turut diproyeksikan akan mencatatkan perbaikan kinerja pada semester II-2026.
Optimisme ini didorong oleh penguatan harga jual ayam ras dan DOC di tingkat peternak yang terus menunjukkan tren positif.
Atas dasar fundamental tersebut, Victor mempertahankan rating overweight untuk sektor perunggasan.
Ia merekomendasikan beli untuk saham CPIN dengan target harga Rp 5.900, JPFA di level Rp 3.300, dan MAIN di angka Rp 900 per saham.


