YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta tetap mengoperasikan puluhan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) meski hingga saat ini belum memiliki bangunan fisik gerai. Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan menjadi kendala utama dalam memenuhi syarat minimal 600 meter persegi untuk pembangunan infrastruktur fisik tersebut.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa operasional koperasi tetap berjalan secara aktif di seluruh wilayah. Hal ini diungkapkan di sela peresmian operasional 1.061 Koperasi Merah Putih secara serentak bersama Presiden Prabowo Subianto, Sabtu (16/5/2026).
Salah satu contoh sukses adalah Koperasi Merah Putih di Kampung Gunungketur, Kecamatan Pakualaman. Koperasi ini fokus pada industri batik komersial bernama “Yogya Segoro Amarto Reborn”. Unit usaha ini berhasil memproduksi seragam bagi 6.500 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Yogyakarta.
Hasto menjelaskan, pihaknya tengah menyiapkan produksi batik gelombang kedua untuk seragam sekolah dengan target 65.000 potong. Langkah ini merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat ekosistem UMKM dan mempertahankan status Yogyakarta sebagai kota batik dunia versi UNESCO.
Untuk mengatasi kendala infrastruktur, Pemkot Yogyakarta telah mendapatkan izin penggunaan tanah (palilah) dari Keraton Yogyakarta seluas 3.000 meter persegi di kawasan Umbulharjo. Lahan tersebut akan dibagi menjadi tiga zona peruntukan strategis.
Zona tersebut meliputi pusat gerai fisik koperasi, pusat budidaya ikan lele sistem bioflok, serta kawasan pertanian terintegrasi yang berfokus pada pengolahan sampah organik menjadi pupuk siap pakai.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto, menambahkan bahwa dari 45 kelurahan, sebanyak 32 kelurahan telah menjalankan koperasi secara aktif. Mereka memanfaatkan lahan pribadi pengurus untuk menjalankan beragam unit usaha, mulai dari industri kreatif, penyediaan bahan pokok, hingga jasa keuangan Laku Pandai.
Selain itu, sejumlah koperasi telah bermitra dengan jaringan perhotelan dan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tri berharap melalui koperasi, para pelaku UMKM lokal seperti perajin batik dapat bekerja lebih efektif dalam mengelola bahan baku hingga pemasaran.
Ketua KKMP Gunungketur, Reza Murtaza, mengungkapkan bahwa pihaknya terus menjaga ritme produksi batik secara rutin. Hal ini dilakukan untuk melayani permintaan susulan dari ASN maupun tenaga pendidik di lingkungan Kota Yogyakarta yang belum mendapatkan seragam baru.
“Manajemen menjadi jauh lebih mudah dengan adanya koperasi. Para perajin kini bisa terus berproduksi secara stabil,” tutup Reza.

