Jakarta – Harga Minyakita di pasaran kembali menjadi sorotan setelah tembus di atas Rp20 ribu per liter, atau jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter. Kondisi itu dinilai menunjukkan masih rapuhnya distribusi minyak goreng bersubsidi tersebut ke pasar tradisional.
Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan menegaskan pemerintah tidak cukup hanya mengubah HET jika pasokan di lapangan belum dibenahi. Menurut dia, kenaikan harga resmi harus dibarengi dengan ketersediaan barang yang memadai di pasar.
“Isu mengenai rencana menaikkan HET ini perlu diimbangi dengan supply komoditas tersebut secara masif ke pasar-pasar. Percuma nanti harganya dinaikkan, HET-nya dinaikkan, tapi supply ke pasar-pasarnya itu masih sedikit,” kata Reynaldi kepada RMOL, Sabtu, 9 Mei 2026.
Ia menyebut situasi saat ini justru menyulitkan pedagang dan masyarakat. Di satu sisi barang sulit didapat, di sisi lain harga yang sesuai ketentuan pemerintah juga semakin langka.
“Jadi ada dua kelangkaan yang terjadi. Satu, langka barangnya. Kedua, langka harganya kalau mau mencari minyak kita sesuai dengan Rp15.700 HET yang sekarang,” ujarnya.
IKAPPI mencatat harga Minyakita di sejumlah pasar, termasuk wilayah Jabodetabek, sudah berada di atas ketentuan yang berlaku. Reynaldi menyebut, di beberapa titik harga bahkan menyentuh Rp20 ribu per liter.
“Hari ini betul, beberapa pasar bahkan di Jabodebek saja itu sudah Rp20 ribu,” tuturnya.
Reynaldi mengingatkan, penyesuaian HET tanpa menyeimbangkan pasokan dan permintaan justru berpotensi memunculkan masalah baru di masyarakat. Ia menilai kebijakan harga tidak akan efektif bila distribusi tetap tersendat.
“Jadi kalau misalkan menaikkan HET namun tidak diimbangi dengan supply and demand yang seimbang, saya kira ini juga akan menjadi persoalan baru nanti,” katanya.
Selain itu, ia meminta pemerintah menyiapkan opsi minyak goreng murah lain dengan kemasan sederhana agar masyarakat tetap punya pilihan saat harga Minyakita melambung.
“Maka harus ada alternatif solusi pengganti sebuah merek minyak yang lain yang kemasan sederhana dan harganya terjangkau. Ini perlu dicarikan solusinya,” pungkasnya.

