NEW YORK – Bursa saham Wall Street terperosok ke zona merah pada perdagangan Senin (4/5) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran investor memuncak setelah ketegangan antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) memicu lonjakan harga minyak global.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 557,37 poin atau 1,13% ke level 48.941,90. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,41% ke 7.200,75, sementara Nasdaq Composite turun tipis 0,19% ke 25.067,80.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh laporan pencegatan rudal Iran di wilayah Uni Emirat Arab. Situasi kian memanas setelah beredar kabar simpang siur mengenai dugaan serangan Iran terhadap kapal perang Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Meski Komando Pusat AS membantah adanya serangan, ketidakpastian tersebut tetap memicu kekhawatiran global.
Imbasnya, harga minyak mentah dunia melambung tinggi. West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,39% menjadi US$ 106,42 per barel, sementara minyak Brent meroket 5,8% ke posisi US$ 114,44 per barel.
Di tengah situasi tersebut, Donald Trump meluncurkan inisiatif “Project Freedom” untuk mengawal kapal kargo melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil di tengah mandeknya negosiasi perdamaian antara Iran dan pihak internasional.
CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai konflik Timur Tengah berpotensi menekan pasar dalam jangka pendek. Ia menyoroti kebuntuan terkait isu nuklir Iran yang diprediksi akan menjadi beban berat bagi bursa saham. Kendati demikian, Hatfield tetap optimistis indeks S&P 500 mampu menyentuh level 8.000 pada akhir tahun, didorong oleh laporan keuangan perusahaan yang tetap solid.
Selain sentimen geopolitik, sektor logistik juga mengalami tekanan hebat. Harga saham sejumlah emiten logistik merosot tajam menyusul rencana Amazon untuk memperluas jaringan logistik bisnisnya. Saham GXO Logistics anjlok hingga 18%, sementara UPS dan FedEx masing-masing terkoreksi sekitar 10% dan 9%.

